Sunday, 1 January 2017

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

BAB I
PENGERTIAN DAN HAKIKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A.    PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Sebelum mulai dengan mengemukakan definisi pengambilan keputusan, kiranya lebih dulu tentang apa pengertian ‘keputusan’ itu. Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas (Davis dalam Ibnu syamsi, 1989;4). Keputusan dibuat untuk menghadapi masalah-masalah atau kesalahan yang terjadi terhadap rencana yang telah digariskan atau penyimpangan serius terhadap rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Adapun hak untuk mengambil keputusan pada hakikatnya sama dengan hak untuk membuat rencana. Tugas pengambilan keputusan tingkatannya sederajad dengan tugas pengambilan rencana dalam organisasi.
“Suatau keputusan merupakan jawaban yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab suatu pertanyaan tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang dibicarakan dalam hubungannya dengan perencanaan. Keputusan pun dapat merupakan tindakan terhadap pelaksanaanyang sangat menyimpang dari rencana semula. Kepoutusan yang baik pada dasarnya dapat digunakanuntuk membuat rencana yang baik”(Davis dalam Ibnu Syamsyi,1989:4-5). Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikirn yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Ada babarapa definisi tentang pengambilan keputusan. Dalam hal ini pengambilan keputusan sama dengan pembuatan keputusan yang semuanya terjemahan dari decision making antara lain:
a.       Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua alternatif atau lebih (Terry dalam Ibnu syamsi,1989;6).
b.      Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi (Tim pengajar Subyek,2004;24).
c.       Pengambilan keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan(Ibnu syamsi,1989;6)
Suatu aturan kunci dalam pengambilan keputusan ialah “sekali kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus dibuat”. Dan, “sekali keputusan dibuat sesuatu mulai terjadi”.
Pengambilan keputusan dapat dipahami dalam dua pengertian  yaitu :
1.      Penetapan tujuan yang merupakan terjemahan dari cita-cita aspirasi.
2.      Pencpaian tujuan melalui implementasinya.
Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan dan itu semua berintikan pada hubungan kemanusiaan. Agar terciptanya suatu kesuksesan dalam pengambilan keputusan maka harus mangacu pada ‘sepuluh hukum’ hubungan kemanusiaan dalam setiap pengambilan keputusan, yaitu :
a.       Harus ada sinkronisasi antar tujuan organisasi dan tujuan masing-masing anggota organisasi tersebut.
b.      Harus ada suasana dan iklim kerja yang menggembirakan.
c.       Interaksi antar atasan dan bawahan hendaknya memadu informalitas dengan formalitas.
d.      Manusia tidak boleh diperlakukan seperti mesin.
e.       Kemampuan bawahan harus dikembangkan terus hingga titik optimum.
f.       Pekerjaan dalam organisasi hendaknya yang bersifat menantang.
g.      Hendaknya ada pengkuan dan penghargaan terhadp mereka yang berprestasi
h.      Kemudahan-kemudahan dalam pekerjaan hendaknya diusahakan untuk memungkinkan setiap orang melaksankan tugasnya dengan baik.
i.        Sehubungan dengan penempatan sebaiknya digunakan prinsip “The right man on the right place”.
j.        Tingkat kesejahteraan hendaknya juga diperhatikan antara lain pemberian balas jasa yang setimpal.
Dari pengertian-pengertian tentang pengambilan keputusan dapat ditarik kesimpulan, bahwa keputusan itu diambil dengan sengaja, tidak secara kebetulan dan tidak boleh sembarangan. Masalahnya terlebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan pemecahannya harus didasarkan pemilihan alterntif terbaik dari alternatif-alternatif yang ada.
B.       HAKIKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan adalah aspek yang paling penting dari kegiatan manajemen. Pengambilan keputusan merupakan kegiatan sentral dari manajemen, merupakan kunci kepemimpinan atau inti kepemimpinan, sebagai suatau karakteristik yang fundamental, sebagai jantung kegiatan administrasi, suatu saat kritis bagi tindakan adminitratif. Bahwa pengambilan keputusan adalah kegiatan yang paling penting dari semua kegiatan karena didalamnya manajer terlibat. Dan merupakan pertanggungjawaban dari semua administrator melalui proses tempat keputusan-keputusan dibuat dan dilaksanakan. Karena pengambilan keputusan di semua bidang dan tingkat kegiatan serta pemikiran manusia, maka tidaklah mengherankan bila begitu banyak disiplin berusaha menganalisa dan membuat sistematika dari proses keputusan.
C.      PENTINGNYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan keputusan mempunyai arti penting bagi maju mundurnya suatu organisasi, terutama karena masa depan suatu organisasi banyak ditentukan oleh pengambilan keputusan sekarang. Pentingnya pengambilan keputusan dilihat dari segi kekuasaan untuk membuat keputusan, yaitu apakah mengikuti pola sentralisasi atau desentralisasi. Pada pengambilan keputusan dari sudut kehadirannya, yaitu tanpa adanya teori pengambilan keputusan administratif kita tidak dapat mengerti apabila meramalkan tindakan-indakan manajemen sehingga kita tidak dapat menyempurnakan efektivitas manajemen.
Herbert Simon (1982), mengingatkan betapa besar peranan pengambilan keputusan dalam tubuh organisasi manapun. Dikatakan: “kewajiban ‘memutuskan’ menyusupi keseluruhan organisasi administrative yang sama jauhnya seperti yang dilakukan  oleh kewajiban ‘bertindak’– sesungguhnya, kewajiban memutuskan itu terikat secara integral dengan kewajiban bertindak. Suatu teori umum mengenai administrasi harus mencakup prinsip-prinsip organisasi yang akan menjamin diambilnya keputusan yang benar, seperti halnya ia mencakup prinsip-prinsip yang akan menjamin dilakukannya tindakan yang efektif. “Memutuskan” dan “bertindak” begitu penting bagi organisasi manapun. Karena para pengambil keputusan dalam berbagai organisasi semakin hari semakin menghadapi kondisi-kondisi internal yang kian kompleks dari organisasinya dan yang terus dihadapkan dengan lingkungan yang juga semakin berubah.
Pada umumnya pengambilan keputusan terjadi secara :
  1. Deskriptif, artinya menunjuk bagaimana sebenarnya keputusan terjadi, dan
  2. Preskriptif, artinya berkaitan dengan seni optimalisasi pengambilan keputusan sehingga terjadi peningkatan kualitas dari keputusan yang dibuat.

























BAB II
MACAM, PROSES DAN PEDOMAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN

A.      PEDOMAN CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Diakui oleh  banyak pihak, bahwa pengambilan keputusan yang benar-benar tepat itu memang sulit. Namun sekedar pedoman umum cara pengambilan keputusan yang efektif dapat digambarkan seperti dibawah ini :
1.      Mengetahui penyebab timbulnya masalah
Segala kegiatan yang pelaksanaannya memerlukan pilihan itu sudah dianggap masalah, yaitu memilih mana yang terbaik pelaksanaannya. Apalagi masalah yang akan merugikan organisasi atau mengganggu kelancaran kegiatan organisasi mencapai tujuannya. Oleh karena itu dalam memecahkan masalah  harus diketahui penyebab sesungguhnya sehingga masalah tersebut timbul.
2.      Mengetahui akibat jika masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut
Dalam mengambil suatu keputusan kita harus mengetahui apakah akibat yang akan ditimbulkan apabila masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut. Dengan demikian pemecahan mutlak diperlukan agar dapat mencegah akibat atau dampak yang berkelanjutan.
3.      Merumuskan masalah dengan jelas
Sebelum mengambil keputusan kita harus mengetahui masalah yang sedang dihadapi. Masalh tersebut harus diidentifikasikan, dispesifikasikan, diklasifikasikan, dirumuskan dan dipahami. Perumusan masalah meliputi batas-batas permasalahan dan serius tidaknya masalah tersebut.
4.      Usahakanlah bahwa tujuan keputusan itu tidak bertentangan dengan tujuan organisasi secara keseluruhan.
Tujuan organisasi harus dijadikan pedoman segala kegiatan dalam oranisasi itu. Semua keputusan dan kegiatan tidak boleh bertentangan dengan tujuan umum organisasi, bahkan mendukung tercapainya tujuan organisasi.
5.      Melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan
Dilibatkannya bawahan dalam pengambilan keputusan ini bertujuan ganda. Keputusan akan lebih berbobot karena dipikirkan oleh orang banyak, apalagi kalau keputusannya itu meliputi bermacam-macam aspek baik itu dari aspek teknis, administrative, human relation, keuangan dan lain sebagainya. Bawahan akan merasa dihargai karena diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan. Tugas pimpinan akan menjadi lebih ringan. Meskipun bawahan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, namun keterlibatannya berupa masukan dan pendapat ssedangkan keputusan terakhirnya tetap pada pimpinan yang berwenang mengambil keputusan. Akan tetapi terdapat juga suatu keputusan yang merupakan keputusan kelompok yang pengambilan keputusannya berdasarkan hasil rapat dari kelompok organisasi bukan dari keputusan pimpinannya saja.
6.      Harus yakin bahwa pelaksanaan keputusannya itu akan berhasil dengan baik
dikarenakan keyakinan akan pengambilan keputusan sudah dipertimbangkan sebelumnya dan akan diikuti dengan usaha yang sungguh-sungguh. Keberhasilan pelaksanaan keputusan itu tergantung pada kerjasama dan dukungan semua pihak, diantaranya dukungan bawahan yang merupakan salah satu dukungan terpenting dan kewibawaan atasan juga sangat diharapkan untuk ditunjukkan.
7.      Menilai hasil pelaksanaan keputusan
Dalam pelaksanaan keputusan yang telah diambil perlu dinilai apakan keputusan tersebut dapat membawa dampak yang baik atau malah sebaliknya membawa dampak yang buruk baik berdasarkan tujuan maupun harapannya.
8.      Pendekatan yang fleksibel
Fleksibilitas  ini tidak hanya dalam pengambilan keputusan saja, tetapi juga dalam pelaksanaan  keputusan. Jika pelaksanaan tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu ada perubahan keputusan yang akan menghasilkan pelaksanaan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu sebaiknya disiapkan beberapa alternatif keputusan.




BAB III
ALTERNATIF DAN STARATEGI  DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.    ALTERNATIF KEPUTUSAN
Setelah secara rinci masalahnya diketahui dengan tepat dan telah tersusun dengan baik, maka kemudian perlu dipikirkan cara-cara pemecahannya. Cara pemecahan ini hendaknya selalu diusahakan agar terdapat alternatif-alternatif beserta segala konsekuensinya masing-masing baik konsekuensi positif maupun konsekuensi negatifnya. Ini berarti pemimpin harus mampu mengadakan prakiraan yang sebaik-baiknya kemampuan melihat jauh kedepan akan mempengaruhi hasil keputusan untuk dapat semakin lebih baik.
Untuk mengadakan prakiraan yang dibutuhkan beberapa informasi dan metode yang cukup  baik yang diperoleh melalui system informasi bagi pimpinan  dan disesuaikan dengan prakiraan yang digunakan. Adapun macam-macam artian prakiraan yaitu:
1.      Prakiraan dalam arti proyeksi yakni prakiraan yang mengarah pada kecendrungan dari data yang telah terkumpul dan tesusun secara rapid an kronologis yang kemudian dianalisis menggunakan deret berkala untuk mengetahui apakah kecendrungan itu meningkat atau malah menurun. Jika terbukti menurun, secepatnya harus dicari penyebabnya dan mencari jalan untuk mengatasinya sehingga tidak mengalami keterlambatan.
2.      Prakiraan dalam arti prediksi yaitu prakiraan yang dilakukan dengan mengadakan analisis hubungan sebab akibat. Jadi merupakan semacam hokum sebab akibat. Dalam ilmu ekonomi dikatakan hokum pertambahan hasil yang semakin berkurang. Dengan berlakunya hokum tersebut dapat digunakan untuk mengadakan prediksi yang lebih tepat.
3.      Prakiraan dalam pengertian konjeksi. Dalam pengertian ini prakiraan di dasarkan  pada kekuatan  intuisi yang bersifat subjektif yang artinya sangat tergantung dari kemampuan seorang untuk mengolah perasaan prakiraan ini bersifat tidak ilmiah.
Setiap altenatif membawa konsekuensi satu dengan yang lainnya, mengingat perbedaan dari konsekuensi yang akan ditimbulkan dimana pilihan harus dapat memberikan kebahagiaan yang merupakan salah satu aspek penting.
B.     STRATEGI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Terlebih dahulu kita harus mengetahui apakah yang dimaksud dengan strategi. Istilah strategi berasal dari kata yunani  ‘strategos’ atau ‘strategus’ dengan kata jamak strrategi.  Strategos berarti jendral akan tetapi dalam bahasa yunani kuno sering berarti perwira Negara dengan fungsi yang luas. Akan tetapi dari berbagai pengertian yang muncul ten tang strategi dapat dikemukakan bahwa strategi juga merupakan suatu seni menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu organisasi unutk mencapai sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang paling menguntungkan. Adapun strategi yang dilakukan dalam pengambilan keputusan yaitu:
1.      Simak keadaan alamiah kodisi keputusan yang dihadapi.
2.      Salami lebih dalam untuk mengetahui struktur sebenarnya yang ada di dasar setiap kondisi.
3.      Menemukan strategi yang dirasa paling tepat untuk diterapkan dalam pembuatan keputusan.
Peranan pemimpin sebagai pembuat keputusan adalah penting karena hanya merekalah sesunggguhnya yang akhirnya menetapkan sasaran organisasi baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Berkaitan dengan pembuat strategi, pada umumnya para ahlli stategi sependapat bahwa strategi dibuat oleh pejabat tingkat tinggi dalam organisasi. Mereka melihat strategi sebagai seperangkat keputusan penting yang diangkat dari suatu proses pengambilan keputusan yang sistematis, yang dibuat pada tingkat tertingggi dari suatu organisasi.
Sejauh konsep strategi telah membicarakan banyak unsur penting. Adapun perkembngan dari pelaksanaan strategi antara lain :
a.       Prakiraan mengenai kondisi lingkungan serta identifikasi ancaman dan peluang.
b.      Perhitungan mengenai kekuatan dan kelemahan organisasi dalam wilayah pemasaran produk tertentu
c.       Identifikasi tujuan, sasaran serta nilai-nilai organisasi yang hendak di capai
d.      Syarat untuk memilih strategi tertentu yang dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Para eksekutif perlu menjamin bahwa strategi yang mereka susun dapat berhasil dengan meyakinkan. Untuk itu, Hatten dan Hatten (1988) memberi beberapa prinsip strategi agar strategi yang dibuat dapat sukses, yaitu:
1.      Strategi haruslah konsisten dengan lingkungannya, artinya jangan membuat strategi yang melawan arus. Ikutilah arus perkembangan dalam masyarakat, dalam lingkungan yang memberi peluang untuk bergerak maju;
2.      Setiap organisasi tidak hanya membuat satu strategi, artinya apabila ada banyak strategi yang dibuat maka strategi yang satu haruslah konsisten dengan strategi yang lain;
3.      Strategi yang efektif hendaknya memfokuskan dan menyatukan semua sumber daya dan tidak mencerai beraikan satu dengan yang lain;
4.      Stategi hendaknya memusatkan perhatian pada apa yang merupakan kekuatannya dan tidak pada titik-titik yang justru adalah kelemahannya;
5.       Sumber daya adalah suatu yang kritis, sehingga kita harus membuat  yang memang layak dan dapat dilaksanakan;
6.      Strategi hendaknya memperhitungkan resiko yang tidak terlalu besar;
7.      Strategi hendaknya disusun diatas landasan keberhasilan yang telah dicapai;
8.      Tanda-tanda dari kesuksesan strategi ditampakkan dengan adanya dukungan dari pihak-pihak terkait, terutama dari para eksekutif, dari semua pimpinan unit kerja dalam organisasi.



BAB IV
TEORI, MODEL KEPUTUSAN DAN TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.    TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Secara tipikal pembuatan kebijaksanaan merupakan tindakan yang berpola, yang dilakukan sepanjang waktu dan melibatkan banyak keputusan yang di antaranya ada yang merupakan keputusan rutin, ada yang tidak rutin. Dalam praktek pembuat kebijaksanaan sehari-hari amat jarang kita jumpai suatu kebijaksanaan yang hanya terdiri dari keputusan tunggal. 3 (tiga) teori pengambilan keputusan yang dianggap paling sering dibicarakan dalam pelbagai kepustakaan kebijaksanaan negara.
Teori-teori yang dimaksud ialah :
Ø  Teori Rasional Komprehensif
Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
1.      Pembuat keputusan dihadapkan pada.suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain.
2.      Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya.
3.      Berbagai altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
4.      Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif Yang diPilih diteliti.
5.      Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,dapat diperbandingkan dengan alternatif-altenatif lainnya.
6.      Pembuat keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.
Untuk konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milne (1972), mode irasionar komprehensif ini jelas tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah: informasi/datastatistik tidak memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisi- kondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di mana sistem pembuatan keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi di negara sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.
Ø  Teori Inkremental
Teori inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut.
a.       Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.
b.      Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
c.       Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.
d.      Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
e.       Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
f.       Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.
Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki sifat ” ambil semua atau tidak sama sekali. Karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu. Paham inkremental ini juga cukup realistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu, kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada.
Ø  Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inkremental.
Menurut Yehezkel Dror (1968) gaya inkremental dalam pembuatan keputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti Dror– yang pada dasamya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka — model inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara sedang berkembang, sebab di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan-perbaikan besar-besaran.


BAB V
MACAM INFORMASI DAN POLA KLARIFIKASI
A.    MACAM INFORMASI
Macam informasi dapat dibedakan berdasarkan strukturnya, dan dapat pula dibedakan bedasarkan fungsi bidangnya.
1.      Berdasarkan struktur
Yaitu macam informasi berdasarkan tingkatan pimpinan. Macam informasi yang dibutuhkan oleh pengambilan keputusan  manajerial itu tergantung pada tingkatan pimpinan  dalam organisasi. Ada tiga macam keputusan sesuai dengan tingkatan manajerial, yakni: keputusan strategis, keputusan taktis dan keputusan teknis. Informasi dapat disusun secara sistematis dengan menggunakan computer; agar lebih efiisien. Sebagian besar penggunaan computer ; agar lebih efisien. Sebagian besar penggunaan computer dalam kaitannya dengan SIM masih diletakkkan pada manajemen tingkat menegah dan bawah dengan menekankan pada pengendalian jangka pendek. Misalnya untuk pengendalian persediaan bahan, urutan proses pengerjaan pengendalian anggaran yang sejenis. Bagi pucuk pimpinan tugasnya sangat berbeda, karen lebih ditujukan untuk pemikiran masa depan . penggunaan computer dimungkinkan untuk memperkirakan tendensi hasil atau kegiatan jangka waktu yang akan datang. Misalnya berapa jumlah produk yang akan dihasilkan apabila berdasarkan analisis data dari wwaktu ke waktu mengenai hasil penjualan. Hal ini akan sangat mudah diketahui apabila dihitung dan dianalisis dengan menggunakan computer. Hal yang serupa dapat juga untuk mengetahui arah kecenderungan hasil pemerintah daerahh, melalui analisis data dari tahun ke tahun dengan menggunakan computer.
Tingkatan puncak pimpinan (Top Management). Keputusan yang diambil oleh pucuk pimpinan (Top Manager) itu bersifat strategis, lingkupan informasi yang dibutuhkan adalah makro. Ini berarti innformasi ekstern yang ada kaitannya dan dibutuhkan untuuk pengambilan keputusan dalam organisasinya. Dasar pengambilan keputusan strategis dari pucuk pimpinan lebih ditekankan pada intuisi, feeling. Feeling yang kuat ini diperoleh berkat pengalaman yang lama, luas dan banyak dikombinasi dengan keterampilan konseptualnya. Sudah barang tentu setelah mendapatkan informmasi yang cukup.
Misalnya kkeputusan untuk membuat kebijaksanaan dan perencanaan jangka panjang; ini memerlukan infoormasi ekstern.. informasi ekstern dapat berlingkup internasional maupun nasional. Lingkupan internasional diperlukan apabila kegiatan atau peristiwa internasional itu akan berpebgaruh terhadap kegiatan organisasi yang bersangkutan. Mmisaalnya terjadinya krisis teluk itu akan berpengaruh terhadap kegiatan perusahaan ekkspor negara timur tengah; mungkin juga akan berpengaruh  terhadap usaha perbankan . keputuan pada tingkat puncak (top) lebih banyak bersifat intuitif (olah rasa) sebagaimana telah disebutkan di atas. Karena itu ketangguhan dari pimpinan itu terletak pada “seni” dalam pengambilan keputusan yang tepat. Macam informasi yang dibutuhkan pucuk pimpinanyang bersifat  makro internasional, suasana perekonomian internasional, politik internasional  dan lain sebagainya. Macam infgormasi yang bersifat makro nasional, meliputi keadaan eekonomi nasional , ketenagakerjaan, pengangguran, peraturan dari pemerintah dan lain sebagainya.
Pimpinan tingkat madya ( middle management), keputusan yang diambil oleh pimpinan tingkat madya ini bersifat taktis dengan lingkupan makro. Pimpinan tingkat madya ini harus mampu menjabarkan kebijaksanaan dan keputusan pucuk pimpinan sesuai dengan bidangnya. Kebijaksanaan dan keputusan yang diambil oleh pimpinan tingkat madya ini hariud menjembatani kebijjaksanaan strategis dan pelaksanaan teknis operasional. Oleh karena itu pengguanaan pikiran sehat sangat berperan. Informasi yang dibutuhkan oleh middle management sesuai dengan bidangnya. Informasi keuangan: menyangkut kemampuan menyediakan dana bagi biaya pelaksanaan keputusan yang telah diambil atasannya. Informasi mengenai personalia meliputi  apakah personalia secara kualitatif dan kuantitatif mampu mendukungnya. Begitu pula dengan halnya dengan kemampuan secara kualitatif dan kuantitatif peralatan yang dibutuhkan, hal ini perlu diinformasikannya.
Pimpinan tingkat bawah (lower management). Keputusan yang diambil oleh pimpinan tingkat bawah adalah bersifat teknis operasional.. pimpinan tingkat ini bertugas menjabarkan kebijakan dan keputusaan yang telah diambil oleh pimpinan tinbgkat madya yang menjadi atasannya.. lower managemenet bertugas untuk mengendalikan kegiatan rutin, misalnya pada perusahaan berupa: pengendalian persediaan bahan, jadwaql kegiatan produksi, ketepatan waktu pengiriman barang , dan lain sebagainya. Di sini informasi tentang pelaksanaan sehari-hari sangat penting untruk pengambilan keputusan. Pelaksanaan teknis operasional sangat erat kaitannya dengan rumusan teknis matematis.
Kebijaksanaan dan keputusan atasan dikaitkan kemungkinan pelaksanaannya, sebaliknya pelaksanaan kegiatan pimpinan tingkat bawah tidak boleh bertentangan dengan putusan atasannya, karena merupakan penjabaran keputusan atasannya. Ap[abila terjadi  kekompakkan antara semua tingkat pimpinan, kkegiatan organisasi akan berjalan lebih lancer.
2.      Berdasarkan Fungsi (bidang)
Dalam merancang SIM, maka terlebih dahulu ditetapkan faktor-faktor krisis keberhasilan (FKK), yang dibutuhkan oleh pimpinan dalam membuat keputusan. Ada beberapa faktor yang perlu diperhhatikan, misalnya:
Bidang industry mobil
1.      Gaya model (styling)
2.      Kualitas;
3.      Kepraktisan;;
4.      Keamanan;
5.      Kenyamanan
6.      Pengendalian biaya;
7.      Standarisasi
Bidang kepegawaian
      Keputusan yang  diambil berkenaan dengan: (1) cara mendapatkan tenaga kerja, (2) teknik pemilihan calon pegawai, (3) analisis jabatan dan evaluasinya, (4) perundingan dengan ketua serikat kerja, (5) maslah abbsensi karyawan, (6) penggunaan sistem saran, (7) rencana pension, (8) hubungan antara instansi dengan dinas tenaga kerja, dan sebagainya.
Bidang perlengkapan
      tersedianya perlengkapan:
1.      Tepat jenis;
2.      Tepat mutu;
3.      Tepat jumlah;
4.      Tepat tempat;
5.      Tepat waktu;;
Bidang prooduksi
      Keputusan yang diambil berkaitan antara lain dengan (1) volume dan produksi, (2) ukuran bangunan pabrik, (3) tata letak dan tata ruang pabrik, (4) lokasi pabrik, (5) metode produkasi, (6) jumlah persediaan bahan, (7) perlunya pengecekan dan lain-lain.
Bidang penjualan
      Keputusan yang diambilnya berkaitan dengan, (1) penetapan pasar, (2) lokasi took dan kantor penjualan, (3) kemasan produksi, (4) merek yang digunakan, (5) saluran pemasaran, (6) harga, (7) masalah periklanan, (8) metode \kompensasi penjualan, (9) penelitian pasar, (10) persaingan dan lain sebagainya.
Bidang keuangan
     keputusan yang diambil berkaitan dengan, (1) struktur modal, (2) jumlah modal kerja, (3) jaminan untuk dana baru, (4) pembayaran deviden, (5) modal yang ditanam kembali untuk memperbesar usaha, (6) rencana pembiayaan baru, (7) penetapan biayan operasional, (8) likuidasi, (9) perimbanganm antara aktiva lancer dan utang jangka pendek (currentatio), dan lain sebagainya.




BAB VI
KENDALA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.    KENDALA YANG BERSUMBER DARI DALAM DIRI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kendala yang paling besar dampaknya dalam pengambilan keputusan itu sesungguhnya adalah kendala yang bersumber dari dalam diri pengambil keputusan itu sendiri.ada beberapa faktor yang bisa digolongkan kedalam kendala yang berasal dari dalam diri pengambil keputusan.

1.      Ketidakmampuan Seseorang Untuk Bertindak Secara Tegas
Kendala yang paling kentara seperti ketidakmampuan seorang pengambil keputusan itu untuk bertindak secara tegas.
2.      Sikap Ragu-Ragu
Kendala lain yang ikut menghambat proses pengambilan keputusan adalah sikap ragu-ragu dari diri pengambil keputusan, seringkali pengambil keputusan membiarkan dirinya diliputi rasa ragu-ragu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindaknya. Seperti yang dikemukakan oleh S.P. Siagian dalam bukunya yang berjudul “Teori dan Teknik Pengambilan Keputusan”(1988, hal.178). Seringkali seorang manajer membiarkan dirinya diliputi keragu-raguan yang sedemikian menguasai cara berpikir dan bertindaknya, sehingga :
-          Ia menyerahkan pengambilan keputusan kepada para bawahannya, yang sering dibenarkan dengan dalih pendelegasian wewenang.
-          Ia mengangkat permasalahan ke tingkat yang lebih tinggi, sehingga pimpinan pada hierarki yang lebih ataslah yang kemudian mengambil keputusan.
-          Ia mencari alasan sedemikian rupa, sehingga peranan mengambil keputusan itu
bergeser secara horizontal kepada manajer lain yang setingkat.
3.      Pengalaman Pahit atau Kegagalan di Masa Lalu.
Faktor lain yang menjadi kendala dalam pengambilan keputusan adalah faktor pengalaman yang dialami oleh pengambil keputusan. Faktor pengalaman yang menghambat disini adalah pengalaman seperti kegagalan atau pengalaman pahit lain yang dialami oleh seorang pengambil keputusan, sehingga ia menjadi ragu atau takut dalam mengambil keputusan. Akibat dari rasa takut atau ragu dari si pengambil keputusan itu, ia berusaha untuk menutup-nutupi rasa takut itu dengan mencari “perisai” sehingga ia merasa terlindungi dari kegagalan sebelumnya. Ketakutan untuk berbuat salah dalam mengambil keputusan pada umumnya mengakibatkan para pengambil keputusan menjadi bersifat reaktif dan pasif dalam menghadapi suatu permasalahan. Padahal untuk menjadi pengambil keputusan yang efektif diperlukan sikap yang proaktif.
4.      Sikap Malas atau Inertia
Selain itu ada faktor lain yang termasuk kendala yang berasal dari diri pengambil keputusan, yaitu inertia atau kemalasan. Sikap inertia mendorong seseorang tidak berbuat apa-apa hingga ia terpaksa berbuat sesuatu. Ini merupakan jalan pintas yang termudah untuk menghindari mengambil keputusan terhadap problematika tertentu. Ini merupakan salah satu bukti ketidakmampuan seseorang untuk bertindak cepat dan tegas dalam mengambil keputusan. Seseorang yang dihinggapi sikap inertia biasanya suka mencari “kambing hitam” untuk menutupi kesalahan atau kekurangannya.
  1.  KENDALA FAKTOR KETIDAKPASTIAN
Pengambilan keputusan merupakan pemilihan diantara beberapa alternatif pemecahan masalah. Pada hakikatnya keputusan diambil jika pimpinan menghadapi masalah atau untuk mencegah timbulnya masalah dalam organisasi yang bergerak baik dalam bidang sosial maupun komersial. Ada dua kemungkinan sifat tujuan dari pengambilan keputusan. Pertama adalah tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal dalam arti bahwa sekali diputuskan tidak akan ada kaitannya dengan masalah lain. Kemungkinan kedua adalah tujuan pengambilan keputusan dapat bersifat ganda dalam arti bahwa satu keputusan yang diambil sekaligus memecahkan dua masalah atau lebih yang sifatnya kontradiktif ataupun non-kontradiktif.
Dalam setiap pengambilan keputusan para pengambil keputusan akan selalu berhadapan dengan lingkungan, dimana salah satu karakteristiknya yang paling menyulitkan dalam proses pengambilan keputusan adalah ketidakpastian (Uncertainty), ini adalah salah satu sifat dimana tidak akan dapat diketahui dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang datang.
Selain sifat ketidakpastian ini lingkungan juga bersifat kompleks, dimana begitu banyak faktor yang berinteraksi dalam berbagai cara sehingga sering tidak diketahui lagi bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Sehingga tidak dapat disangkal lagi bahwa ketidakpastian merupakan salah satu kendala yang di hadapi dalam pengambilan keputusan. Karena itu kemampuan memperhitungkan dan mengatasi kendala tersebut turut pula menentukan tingkat efektivitas seorang sebagai pengambil keputusan. Ketidakpastias dapat dikatakan menjadi kendala dalam proses pengambilan keputusan karena :
1.      Mungkin kurangnya keyakinan dalam diri manajer yang bersangkutan tentang hasil yang diperoleh dari keputusan yang diambil.
2.      Preferensi pribadi manajer yang bersangkutan atas alternative yang yang mungkin ditempuh, yang bisa saja berbeda dari alternative – alternative yag ditemui melalui pendekatan ilmiah.
3.      Manajer yang bersangkuatan meragukan apakah keputusan baru diperlukan.
  1. KETERLIBATAN POK (Petunjuk Operasional Kegiatan)
POK dalam organisasi, khususnya organisasi yang mem­pengaruhi situasi kegiatan sosial, ekonomi, sangatlah memegang peranan yang penting. Sebagian besar proses pencapaian tujuan organisasi akan ditentukan oleh kemampuan POK yang memegang peranan penting dalam menggerakkan orang-orang pada suatu tujuan tertentu.
Salah satu masalah yang sangat populer dewasa ini adalah masalah manajemen. Pentingnya manajemen merupakan salah satu alat dalam kehidupan suatu organisasi, baik organisasi pemerintah, swasta. orpol maupun ormas; terutama dalam bidang kehidupan manusia selalu mendapat perhatian dari masyarakat. Dalam hal ini inti manajemen adalah kepemimpinan/leadership yang selalu dititikberatkan kepada pimpinan. Pimpinanlah yang merupakan motor penggerak dari sesuatu usaha atau kegiatan, Sering juga  dikemukakan, bahwa keterlibatan Petunjuk Operasional Kegiatan dalam proses pengambilan keputusan kadang – kadang menjadi kendala yang menghambat dalam melaksanakan keputusan, Dimana Peranan POK dalam organisasi dapat pula dikatakan menghambat proses pengambilan keputusan, apabila POK lebih memonopoli organisasi dalam segala hal, sehingga apabila terjadi permasalahan dalam organisasi yang ditemui dalam lingkup tanggung jawab anak buahnya maka dia sulit untuk mengambil keputusan karena adanya monopoli tersebut.
  1. KETIDAKJELASAN PERANAN
Teory pengorganisasian member petunjuk, antara lain bahwa dalam suatu organisasi yang tersusun dengan baik, apabila lima pertanyaan berikut ini harus bisa terjawab dengan memuaskan yaitu :
1.      Siapa yang melakukan apa
2.      Siapa yang bertanggung jawab kepada siapa.
3.      Siapa yang berhubungan dengan siapa, dan dalam hal apa
4.       Jaringan informasi apa yang ada, dan dimanfaatkan untuk kepentingan apa.
5.      Saluran komunikasi apa yang tersedia, dan bagaimana tata karma penggunaannya.
Jawaban terhadap kelima pertanyaan tersebut pada gilirannya akan memperjelas peranan apa yang dimainkan oleh siapa dan serius dalam banyak organisasi. Ketidak jelasan peranan itu dapat berakibat pada berbagai hal yang negatif seperti :   
a.       Kemungkinan seorang bertindak melampaui batas – batas kewenangan yang sesungguhnya dimiliki.
b.      Kemungkinan keragu – raguan bertindak karena ketidak pastian, apakah tindakan yang hendak diambilnya masih dalam batas wewenang yang dimilikinya
c.       Kemungkinan tumpang tindih kegiatan .
d.      Kemungkinan terjadinya duplikasi
e.       Kemungkinan tidak lancarnya koordinasi
f.       Laporang yang tidak ditangani sebagaimana mestinya.
g.      Dan berbagai hal negatif lainnya.
Salah satu cara yang sering digunakan untuk mengatasi kendala demikian adalah dengan menetapkan uraian tugas yang jelas dan lengkap, tidak hanya menyangkut satuan – satuan kerja dalam organisasi, akan tetapi juga menyangkut setiap anggota organisasi yang bersangkutan.      


                                            

                                             DAFTAR PUSTAKA
Basyaib, Fahmi,  2006. Teori Pembuatan Keputusan. Jakarta. Grasindo
Randhani, M.A. dan Suryadi Kadarsah. 2000. Sistem Pendukung Keputusan. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Salusu, J,  1996. Pengambilan  Keputusan Stratejik. Jakarta. Grasindo
Syamsi, Ibnu. 1995. Pengambilan Keputusan. Jakarta. Bina Aksara.
Tim Pengajar Subyek. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Bandung. Alqaprint Jatinangor.







No comments:

Post a Comment