BAB I
PENGERTIAN DAN HAKIKAT PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
A.
PENGERTIAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Sebelum mulai
dengan mengemukakan definisi pengambilan keputusan, kiranya lebih dulu tentang
apa pengertian ‘keputusan’ itu. Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang
dihadapinya dengan tegas (Davis dalam Ibnu syamsi, 1989;4). Keputusan dibuat
untuk menghadapi masalah-masalah atau kesalahan yang terjadi terhadap rencana
yang telah digariskan atau penyimpangan serius terhadap rencana yang telah
ditetapkan sebelumnya. Adapun hak untuk mengambil keputusan pada hakikatnya
sama dengan hak untuk membuat rencana. Tugas pengambilan keputusan tingkatannya
sederajad dengan tugas pengambilan rencana dalam organisasi.
“Suatau keputusan merupakan jawaban
yang pasti terhadap suatu pertanyaan. Keputusan harus dapat menjawab suatu
pertanyaan tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang dibicarakan dalam
hubungannya dengan perencanaan. Keputusan pun dapat merupakan tindakan terhadap
pelaksanaanyang sangat menyimpang dari rencana semula. Kepoutusan yang baik
pada dasarnya dapat digunakanuntuk membuat rencana yang baik”(Davis dalam Ibnu Syamsyi,1989:4-5).
Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses
pemikirn yang berupa pemilihan satu diantara beberapa alternatif yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Ada babarapa
definisi tentang pengambilan keputusan. Dalam hal ini pengambilan keputusan
sama dengan pembuatan keputusan yang semuanya terjemahan dari decision making
antara lain:
a.
Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku dari dua
alternatif atau lebih (Terry dalam Ibnu syamsi,1989;6).
b.
Pengambilan keputusan ialah proses memilih suatu alternatif cara
bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi (Tim pengajar Subyek,2004;24).
c.
Pengambilan keputusan adalah tindakan pimpinan untuk memecahkan masalah
yang dihadapi dalam organisasi yang dipimpinnya dengan melalui pemilihan satu
diantara alternatif-alternatif yang dimungkinkan(Ibnu syamsi,1989;6)
Suatu aturan
kunci dalam pengambilan keputusan ialah “sekali kerangka yang tepat sudah
diselesaikan, keputusan harus dibuat”. Dan, “sekali keputusan dibuat sesuatu
mulai terjadi”.
Pengambilan keputusan dapat dipahami dalam dua pengertian yaitu :
1.
Penetapan tujuan yang merupakan terjemahan dari cita-cita aspirasi.
2.
Pencpaian tujuan melalui implementasinya.
Keputusan dibuat
untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan dan itu semua berintikan pada
hubungan kemanusiaan. Agar terciptanya suatu kesuksesan dalam pengambilan
keputusan maka harus mangacu pada ‘sepuluh hukum’ hubungan kemanusiaan dalam
setiap pengambilan keputusan, yaitu :
a.
Harus ada sinkronisasi antar tujuan organisasi dan tujuan masing-masing
anggota organisasi tersebut.
b.
Harus ada suasana dan iklim kerja yang menggembirakan.
c.
Interaksi antar atasan dan bawahan hendaknya memadu informalitas dengan
formalitas.
d.
Manusia tidak boleh diperlakukan seperti mesin.
e.
Kemampuan bawahan harus dikembangkan terus hingga titik optimum.
f.
Pekerjaan dalam organisasi hendaknya yang bersifat menantang.
g.
Hendaknya ada pengkuan dan penghargaan terhadp mereka yang berprestasi
h.
Kemudahan-kemudahan dalam pekerjaan hendaknya diusahakan untuk
memungkinkan setiap orang melaksankan tugasnya dengan baik.
i.
Sehubungan dengan penempatan sebaiknya digunakan prinsip “The right man
on the right place”.
j.
Tingkat kesejahteraan hendaknya juga diperhatikan antara lain pemberian
balas jasa yang setimpal.
Dari pengertian-pengertian tentang
pengambilan keputusan dapat ditarik kesimpulan, bahwa keputusan itu diambil
dengan sengaja, tidak secara kebetulan dan tidak boleh sembarangan. Masalahnya
terlebih dahulu harus diketahui dan dirumuskan dengan jelas, sedangkan
pemecahannya harus didasarkan pemilihan alterntif terbaik dari
alternatif-alternatif yang ada.
B. HAKIKAT PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan
keputusan adalah aspek yang paling penting dari kegiatan manajemen. Pengambilan
keputusan merupakan kegiatan sentral dari manajemen, merupakan kunci
kepemimpinan atau inti kepemimpinan, sebagai suatau karakteristik yang
fundamental, sebagai jantung kegiatan administrasi, suatu saat kritis bagi
tindakan adminitratif. Bahwa pengambilan keputusan adalah kegiatan yang paling
penting dari semua kegiatan karena didalamnya manajer terlibat. Dan merupakan
pertanggungjawaban dari semua administrator melalui proses tempat
keputusan-keputusan dibuat dan dilaksanakan. Karena pengambilan keputusan di
semua bidang dan tingkat kegiatan serta pemikiran manusia, maka tidaklah
mengherankan bila begitu banyak disiplin berusaha menganalisa dan membuat
sistematika dari proses keputusan.
C. PENTINGNYA PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Pengambilan
keputusan mempunyai arti penting bagi maju mundurnya suatu organisasi, terutama
karena masa depan suatu organisasi banyak ditentukan oleh pengambilan keputusan
sekarang. Pentingnya pengambilan keputusan dilihat dari segi kekuasaan untuk
membuat keputusan, yaitu apakah mengikuti pola sentralisasi atau
desentralisasi. Pada pengambilan keputusan dari sudut kehadirannya, yaitu tanpa
adanya teori pengambilan keputusan administratif kita tidak dapat mengerti
apabila meramalkan tindakan-indakan manajemen sehingga kita tidak dapat
menyempurnakan efektivitas manajemen.
Herbert Simon
(1982), mengingatkan betapa besar peranan pengambilan keputusan dalam tubuh
organisasi manapun. Dikatakan: “kewajiban ‘memutuskan’ menyusupi keseluruhan
organisasi administrative yang sama jauhnya seperti yang dilakukan oleh kewajiban ‘bertindak’– sesungguhnya,
kewajiban memutuskan itu terikat secara integral dengan kewajiban bertindak.
Suatu teori umum mengenai administrasi harus mencakup prinsip-prinsip
organisasi yang akan menjamin diambilnya keputusan yang benar, seperti halnya
ia mencakup prinsip-prinsip yang akan menjamin dilakukannya tindakan yang
efektif. “Memutuskan” dan “bertindak” begitu penting bagi organisasi manapun.
Karena para pengambil keputusan dalam berbagai organisasi semakin hari semakin
menghadapi kondisi-kondisi internal yang kian kompleks dari organisasinya dan
yang terus dihadapkan dengan lingkungan yang juga semakin berubah.
Pada umumnya pengambilan keputusan terjadi secara :
- Deskriptif, artinya menunjuk bagaimana sebenarnya keputusan terjadi, dan
- Preskriptif, artinya berkaitan dengan seni optimalisasi pengambilan keputusan
sehingga terjadi peningkatan kualitas dari keputusan yang dibuat.
BAB II
MACAM, PROSES DAN PEDOMAN PENGAMBILAN
KEPUTUSAN
A.
PEDOMAN CARA
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Diakui oleh banyak pihak,
bahwa pengambilan keputusan yang benar-benar tepat itu memang sulit. Namun
sekedar pedoman umum cara pengambilan keputusan yang efektif dapat digambarkan
seperti dibawah ini :
1.
Mengetahui
penyebab timbulnya masalah
Segala kegiatan
yang pelaksanaannya memerlukan pilihan itu sudah dianggap masalah, yaitu
memilih mana yang terbaik pelaksanaannya. Apalagi masalah yang akan merugikan
organisasi atau mengganggu kelancaran kegiatan organisasi mencapai tujuannya.
Oleh karena itu dalam memecahkan masalah
harus diketahui penyebab sesungguhnya sehingga masalah tersebut timbul.
2.
Mengetahui
akibat jika masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut
Dalam mengambil
suatu keputusan kita harus mengetahui apakah akibat yang akan ditimbulkan
apabila masalah tersebut dibiarkan berlarut-larut. Dengan demikian pemecahan
mutlak diperlukan agar dapat mencegah akibat atau dampak yang berkelanjutan.
3.
Merumuskan
masalah dengan jelas
Sebelum
mengambil keputusan kita harus mengetahui masalah yang sedang dihadapi. Masalh
tersebut harus diidentifikasikan, dispesifikasikan, diklasifikasikan,
dirumuskan dan dipahami. Perumusan masalah meliputi batas-batas permasalahan
dan serius tidaknya masalah tersebut.
4.
Usahakanlah
bahwa tujuan keputusan itu tidak bertentangan dengan tujuan organisasi secara
keseluruhan.
Tujuan
organisasi harus dijadikan pedoman segala kegiatan dalam oranisasi itu. Semua
keputusan dan kegiatan tidak boleh bertentangan dengan tujuan umum organisasi,
bahkan mendukung tercapainya tujuan organisasi.
5.
Melibatkan
bawahan dalam proses pengambilan keputusan
Dilibatkannya
bawahan dalam pengambilan keputusan ini bertujuan ganda. Keputusan akan lebih
berbobot karena dipikirkan oleh orang banyak, apalagi kalau keputusannya itu
meliputi bermacam-macam aspek baik itu dari aspek teknis, administrative, human
relation, keuangan dan lain sebagainya. Bawahan akan merasa dihargai karena
diikutsertakan dalam proses pengambilan keputusan. Tugas pimpinan akan menjadi
lebih ringan. Meskipun bawahan dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan,
namun keterlibatannya berupa masukan dan pendapat ssedangkan keputusan
terakhirnya tetap pada pimpinan yang berwenang mengambil keputusan. Akan tetapi
terdapat juga suatu keputusan yang merupakan keputusan kelompok yang
pengambilan keputusannya berdasarkan hasil rapat dari kelompok organisasi bukan
dari keputusan pimpinannya saja.
6.
Harus yakin
bahwa pelaksanaan keputusannya itu akan berhasil dengan baik
dikarenakan
keyakinan akan pengambilan keputusan sudah dipertimbangkan sebelumnya dan akan
diikuti dengan usaha yang sungguh-sungguh. Keberhasilan pelaksanaan keputusan
itu tergantung pada kerjasama dan dukungan semua pihak, diantaranya dukungan
bawahan yang merupakan salah satu dukungan terpenting dan kewibawaan atasan
juga sangat diharapkan untuk ditunjukkan.
7.
Menilai hasil
pelaksanaan keputusan
Dalam
pelaksanaan keputusan yang telah diambil perlu dinilai apakan keputusan
tersebut dapat membawa dampak yang baik atau malah sebaliknya membawa dampak
yang buruk baik berdasarkan tujuan maupun harapannya.
8.
Pendekatan yang
fleksibel
Fleksibilitas ini tidak
hanya dalam pengambilan keputusan saja, tetapi juga dalam pelaksanaan keputusan. Jika pelaksanaan tidak sesuai
dengan yang diharapkan, maka perlu ada perubahan keputusan yang akan
menghasilkan pelaksanaan yang lebih baik lagi. Oleh karena itu sebaiknya
disiapkan beberapa alternatif keputusan.
BAB III
ALTERNATIF DAN STARATEGI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.
ALTERNATIF
KEPUTUSAN
Setelah secara rinci masalahnya
diketahui dengan tepat dan telah tersusun dengan baik, maka kemudian perlu
dipikirkan cara-cara pemecahannya. Cara pemecahan ini hendaknya selalu diusahakan
agar terdapat alternatif-alternatif beserta segala konsekuensinya masing-masing
baik konsekuensi positif maupun konsekuensi negatifnya. Ini berarti pemimpin
harus mampu mengadakan prakiraan yang sebaik-baiknya kemampuan melihat jauh
kedepan akan mempengaruhi hasil keputusan untuk dapat semakin lebih baik.
Untuk mengadakan prakiraan yang
dibutuhkan beberapa informasi dan metode yang cukup baik yang diperoleh melalui system informasi
bagi pimpinan dan disesuaikan dengan
prakiraan yang digunakan. Adapun macam-macam artian prakiraan yaitu:
1.
Prakiraan dalam
arti proyeksi yakni prakiraan yang mengarah pada kecendrungan dari data yang
telah terkumpul dan tesusun secara rapid an kronologis yang kemudian dianalisis
menggunakan deret berkala untuk mengetahui apakah kecendrungan itu meningkat
atau malah menurun. Jika terbukti menurun, secepatnya harus dicari penyebabnya
dan mencari jalan untuk mengatasinya sehingga tidak mengalami keterlambatan.
2.
Prakiraan dalam
arti prediksi yaitu prakiraan yang dilakukan dengan mengadakan analisis
hubungan sebab akibat. Jadi merupakan semacam hokum sebab akibat. Dalam ilmu
ekonomi dikatakan hokum pertambahan hasil yang semakin berkurang. Dengan
berlakunya hokum tersebut dapat digunakan untuk mengadakan prediksi yang lebih
tepat.
3.
Prakiraan dalam
pengertian konjeksi. Dalam pengertian ini prakiraan di dasarkan pada kekuatan
intuisi yang bersifat subjektif yang artinya sangat tergantung dari
kemampuan seorang untuk mengolah perasaan prakiraan ini bersifat tidak ilmiah.
Setiap altenatif membawa konsekuensi satu
dengan yang lainnya, mengingat perbedaan dari konsekuensi yang akan ditimbulkan
dimana pilihan harus dapat memberikan kebahagiaan yang merupakan salah satu
aspek penting.
B.
STRATEGI DALAM
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Terlebih dahulu kita harus mengetahui
apakah yang dimaksud dengan strategi. Istilah strategi berasal dari kata
yunani ‘strategos’ atau ‘strategus’
dengan kata jamak strrategi. Strategos
berarti jendral akan tetapi dalam bahasa yunani kuno sering berarti perwira
Negara dengan fungsi yang luas. Akan tetapi dari berbagai pengertian yang
muncul ten tang strategi dapat dikemukakan bahwa strategi juga merupakan suatu
seni menggunakan kecakapan dan sumber daya suatu organisasi unutk mencapai
sasarannya melalui hubungan yang efektif dengan lingkungan dalam kondisi yang
paling menguntungkan. Adapun strategi yang dilakukan dalam pengambilan
keputusan yaitu:
1.
Simak keadaan
alamiah kodisi keputusan yang dihadapi.
2.
Salami lebih
dalam untuk mengetahui struktur sebenarnya yang ada di dasar setiap kondisi.
3.
Menemukan
strategi yang dirasa paling tepat untuk diterapkan dalam pembuatan keputusan.
Peranan pemimpin sebagai pembuat
keputusan adalah penting karena hanya merekalah sesunggguhnya yang akhirnya
menetapkan sasaran organisasi baik jangka pendek, jangka menengah, maupun
jangka panjang. Berkaitan dengan pembuat strategi, pada umumnya para ahlli
stategi sependapat bahwa strategi dibuat oleh pejabat tingkat tinggi dalam
organisasi. Mereka melihat strategi sebagai seperangkat keputusan penting yang
diangkat dari suatu proses pengambilan keputusan yang sistematis, yang dibuat
pada tingkat tertingggi dari suatu organisasi.
Sejauh konsep strategi telah
membicarakan banyak unsur penting. Adapun perkembngan dari pelaksanaan strategi
antara lain :
a.
Prakiraan
mengenai kondisi lingkungan serta identifikasi ancaman dan peluang.
b.
Perhitungan
mengenai kekuatan dan kelemahan organisasi dalam wilayah pemasaran produk
tertentu
c.
Identifikasi
tujuan, sasaran serta nilai-nilai organisasi yang hendak di capai
d.
Syarat untuk
memilih strategi tertentu yang dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Para eksekutif perlu menjamin bahwa
strategi yang mereka susun dapat berhasil dengan meyakinkan. Untuk itu, Hatten
dan Hatten (1988) memberi beberapa prinsip strategi agar strategi yang dibuat
dapat sukses, yaitu:
1.
Strategi
haruslah konsisten dengan lingkungannya, artinya jangan membuat strategi yang
melawan arus. Ikutilah arus perkembangan dalam masyarakat, dalam lingkungan
yang memberi peluang untuk bergerak maju;
2.
Setiap
organisasi tidak hanya membuat satu strategi, artinya apabila ada banyak
strategi yang dibuat maka strategi yang satu haruslah konsisten dengan strategi
yang lain;
3.
Strategi yang
efektif hendaknya memfokuskan dan menyatukan semua sumber daya dan tidak
mencerai beraikan satu dengan yang lain;
4.
Stategi
hendaknya memusatkan perhatian pada apa yang merupakan kekuatannya dan tidak
pada titik-titik yang justru adalah kelemahannya;
5.
Sumber daya adalah suatu yang kritis, sehingga
kita harus membuat yang memang layak dan
dapat dilaksanakan;
6.
Strategi
hendaknya memperhitungkan resiko yang tidak terlalu besar;
7.
Strategi
hendaknya disusun diatas landasan keberhasilan yang telah dicapai;
8.
Tanda-tanda
dari kesuksesan strategi ditampakkan dengan adanya dukungan dari pihak-pihak
terkait, terutama dari para eksekutif, dari semua pimpinan unit kerja dalam
organisasi.
BAB IV
TEORI, MODEL KEPUTUSAN DAN TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A. TEORI
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Secara tipikal
pembuatan kebijaksanaan merupakan tindakan yang berpola, yang dilakukan
sepanjang waktu dan melibatkan banyak keputusan yang di antaranya ada yang
merupakan keputusan rutin, ada yang tidak rutin. Dalam praktek pembuat
kebijaksanaan sehari-hari amat jarang kita jumpai suatu kebijaksanaan yang
hanya terdiri dari keputusan tunggal. 3 (tiga) teori pengambilan keputusan yang
dianggap paling sering dibicarakan dalam pelbagai kepustakaan kebijaksanaan
negara.
Teori-teori yang dimaksud ialah :
Ø Teori Rasional Komprehensif
Teori pengambilan keputusan yang
paling dikenal dan mungkin pula yang banyak diterima oleh kalangan luas ialah
teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan
sebagai berikut :
1.
Pembuat keputusan dihadapkan pada.suatu masalah tertentu yang dapat
dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebagai
masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain.
2.
Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang mempedomani pembuat
keputusan amat jelas dan dapat ditetapkan rangkingnya sesuai dengan urutan kePentingannya.
3.
Berbagai altenatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara
saksama.
4.
Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditmbulkan oleh setiap altenatif
Yang diPilih diteliti.
5.
Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyertainya,dapat diperbandingkan
dengan alternatif-altenatif lainnya.
6.
Pembuat keputusan akan memilih alternatif’ dan akibat-akibatnya’ yang
dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai atau Sasaran yang telah digariskan.
Untuk konteks negara-negara sedang
berkembang, menurut R’s. Milne (1972), mode irasionar komprehensif ini jelas
tidak akan muduh diterapkan. Sebabnya ialah: informasi/datastatistik tidak
memadai ; tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisi-
kondisi negara sedang berkembang ; ekologi budaya di mana sistem pembuatan
keputusan itu beroperasi juga tidak mendukung birokrasi di negara
sedang-berkembang umumnya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok
unsur-unsur rasionar dalam pengambilan keputusan.
Ø Teori Inkremental
Teori inkremental dalam pengambilan
keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari
banyak masalah yang harus dipertimbangkan (seperti daram teori rasional
komprehensif) dan, pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih banyak
menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam
mengambil kepurusan sehari-hari.
Pokok-pokok teori inkremental ini
dapat diuraikan sebagai berikut.
a.
Pemilihan tujuan atau sasaran dan analisis tindakan empiris yang
diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait
daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.
b.
Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa altematif
yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan altematif-alternatif ini
hanya dipandang berbeda secara inkremental atau marginal bila dibandingkan
dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
c.
Bagi tiap altematif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar
saja yang akan dievaluasi.
d.
Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didedifinisikan
secara terarur. Pandangan inkrementalisme memberikan kemungkin untuk
mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan
sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
e.
Bahwa tidak ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap
masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa
berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun
tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana
untuk mencapai tujuan.
f.
Pembuatan keputusan yang inkremental pada hakikatnya bersifat
perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki
ketidaksempunaan dari upaya-upaya konkrit dalam mengatasi masalahsosial yang
ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang
sama sekali baru di masa yang akan datang.
Dalam masyarakat yang strukturnya
majemuk paham lnkremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih
gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh
berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi
terhadap program-program yang sudah ada daripada jika hal tersebut menyangkut
isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan yang radikal yang memiliki
sifat ” ambil semua atau tidak sama sekali. Karena para pembuat keputusan itu
berada dalam keadaan yang serba tidak pasti khususnya yang menyangkut
akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka di masa datang, maka keputusan yang
bersifat inkremental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang
ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu. Paham inkremental ini juga cukup
realistis karena ia menyadari bahwa para pembuat keputusan sebenamya kurang waktu,
kurang pengalaman dan kurang sumber-sumber lain yang diperlukan untuk melakukan
analisis yang komprehensif terhadap semua altematif untuk memecahkan
masalah-masalah yang ada.
Ø Teori Pengamatan Terpadu (Mixed
Scanning Theory)
Penganjur teori ini adalah ahli
sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para
teoritisi inkremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan
tetapi ia juga menunjukkan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori
inkremental.
Menurut Yehezkel Dror (1968) gaya
inkremental dalam pembuatan keputusan cenderung menghasilkan kelambanan dan
terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses
pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti Dror– yang pada dasamya
merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka — model
inkremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk
diterapkan di negara-negara sedang berkembang, sebab di negara-negara ini
perubahan yang kecil-kecilan (inkremental) tidaklah memadai guna tercapainya
hasil berupa perbaikan-perbaikan besar-besaran.
BAB V
MACAM INFORMASI DAN POLA KLARIFIKASI
A.
MACAM INFORMASI
Macam informasi dapat dibedakan
berdasarkan strukturnya, dan dapat pula dibedakan bedasarkan fungsi bidangnya.
1. Berdasarkan
struktur
Yaitu macam informasi berdasarkan
tingkatan pimpinan. Macam informasi yang dibutuhkan oleh pengambilan
keputusan manajerial itu tergantung pada
tingkatan pimpinan dalam organisasi. Ada
tiga macam keputusan sesuai dengan tingkatan manajerial, yakni: keputusan
strategis, keputusan taktis dan keputusan teknis. Informasi dapat disusun
secara sistematis dengan menggunakan computer; agar lebih efiisien. Sebagian
besar penggunaan computer ; agar lebih efisien. Sebagian besar penggunaan
computer dalam kaitannya dengan SIM masih diletakkkan pada manajemen tingkat
menegah dan bawah dengan menekankan pada pengendalian jangka pendek. Misalnya
untuk pengendalian persediaan bahan, urutan proses pengerjaan pengendalian
anggaran yang sejenis. Bagi pucuk pimpinan tugasnya sangat berbeda, karen lebih
ditujukan untuk pemikiran masa depan . penggunaan computer dimungkinkan untuk
memperkirakan tendensi hasil atau kegiatan jangka waktu yang akan datang.
Misalnya berapa jumlah produk yang akan dihasilkan apabila berdasarkan analisis
data dari wwaktu ke waktu mengenai hasil penjualan. Hal ini akan sangat mudah
diketahui apabila dihitung dan dianalisis dengan menggunakan computer. Hal yang
serupa dapat juga untuk mengetahui arah kecenderungan hasil pemerintah daerahh,
melalui analisis data dari tahun ke tahun dengan menggunakan computer.
Tingkatan puncak pimpinan (Top
Management). Keputusan yang diambil oleh pucuk pimpinan (Top Manager) itu
bersifat strategis, lingkupan informasi yang dibutuhkan adalah makro. Ini
berarti innformasi ekstern yang ada kaitannya dan dibutuhkan untuuk pengambilan
keputusan dalam organisasinya. Dasar pengambilan keputusan strategis dari pucuk
pimpinan lebih ditekankan pada intuisi,
feeling. Feeling yang kuat ini diperoleh berkat pengalaman yang lama, luas
dan banyak dikombinasi dengan keterampilan konseptualnya. Sudah barang tentu
setelah mendapatkan informmasi yang cukup.
Misalnya kkeputusan untuk membuat
kebijaksanaan dan perencanaan jangka panjang; ini memerlukan infoormasi
ekstern.. informasi ekstern dapat berlingkup internasional maupun nasional.
Lingkupan internasional diperlukan apabila kegiatan atau peristiwa
internasional itu akan berpebgaruh terhadap kegiatan organisasi yang
bersangkutan. Mmisaalnya terjadinya krisis teluk itu akan berpengaruh terhadap
kegiatan perusahaan ekkspor negara timur tengah; mungkin juga akan
berpengaruh terhadap usaha perbankan .
keputuan pada tingkat puncak (top) lebih banyak bersifat intuitif (olah rasa)
sebagaimana telah disebutkan di atas. Karena itu ketangguhan dari pimpinan itu
terletak pada “seni” dalam pengambilan keputusan yang tepat. Macam informasi yang dibutuhkan pucuk
pimpinanyang bersifat makro
internasional, suasana perekonomian internasional, politik internasional dan lain sebagainya. Macam infgormasi yang
bersifat makro nasional, meliputi keadaan eekonomi nasional , ketenagakerjaan,
pengangguran, peraturan dari pemerintah dan lain sebagainya.
Pimpinan
tingkat madya ( middle management), keputusan yang
diambil oleh pimpinan tingkat madya ini bersifat taktis dengan lingkupan makro.
Pimpinan tingkat madya ini harus mampu menjabarkan kebijaksanaan dan keputusan
pucuk pimpinan sesuai dengan bidangnya. Kebijaksanaan dan keputusan yang
diambil oleh pimpinan tingkat madya ini hariud menjembatani kebijjaksanaan
strategis dan pelaksanaan teknis operasional. Oleh karena itu pengguanaan
pikiran sehat sangat berperan. Informasi yang dibutuhkan oleh middle management
sesuai dengan bidangnya. Informasi keuangan: menyangkut kemampuan menyediakan
dana bagi biaya pelaksanaan keputusan yang telah diambil atasannya. Informasi
mengenai personalia meliputi apakah
personalia secara kualitatif dan kuantitatif mampu mendukungnya. Begitu pula
dengan halnya dengan kemampuan secara kualitatif dan kuantitatif peralatan yang
dibutuhkan, hal ini perlu diinformasikannya.
Pimpinan
tingkat bawah (lower management). Keputusan yang
diambil oleh pimpinan tingkat bawah adalah bersifat teknis operasional..
pimpinan tingkat ini bertugas menjabarkan kebijakan dan keputusaan yang telah
diambil oleh pimpinan tinbgkat madya yang menjadi atasannya.. lower managemenet
bertugas untuk mengendalikan kegiatan rutin, misalnya pada perusahaan berupa:
pengendalian persediaan bahan, jadwaql kegiatan produksi, ketepatan waktu pengiriman
barang , dan lain sebagainya. Di sini informasi tentang pelaksanaan sehari-hari
sangat penting untruk pengambilan keputusan. Pelaksanaan teknis operasional
sangat erat kaitannya dengan rumusan teknis matematis.
Kebijaksanaan dan keputusan atasan
dikaitkan kemungkinan pelaksanaannya, sebaliknya pelaksanaan kegiatan pimpinan
tingkat bawah tidak boleh bertentangan dengan putusan atasannya, karena
merupakan penjabaran keputusan atasannya. Ap[abila terjadi kekompakkan antara semua tingkat pimpinan,
kkegiatan organisasi akan berjalan lebih lancer.
2. Berdasarkan
Fungsi (bidang)
Dalam merancang
SIM, maka terlebih dahulu ditetapkan faktor-faktor krisis keberhasilan (FKK),
yang dibutuhkan oleh pimpinan dalam membuat keputusan. Ada beberapa faktor yang
perlu diperhhatikan, misalnya:
Bidang industry mobil
1. Gaya model (styling)
2. Kualitas;
3. Kepraktisan;;
4. Keamanan;
5. Kenyamanan
6. Pengendalian biaya;
7. Standarisasi
Bidang kepegawaian
Keputusan
yang diambil berkenaan dengan: (1) cara
mendapatkan tenaga kerja, (2) teknik pemilihan calon pegawai, (3) analisis
jabatan dan evaluasinya, (4) perundingan dengan ketua serikat kerja, (5) maslah
abbsensi karyawan, (6) penggunaan sistem saran, (7) rencana pension, (8)
hubungan antara instansi dengan dinas tenaga kerja, dan sebagainya.
Bidang
perlengkapan
tersedianya
perlengkapan:
1.
Tepat jenis;
2.
Tepat mutu;
3.
Tepat jumlah;
4.
Tepat tempat;
5.
Tepat waktu;;
Bidang
prooduksi
Keputusan yang diambil
berkaitan antara lain dengan (1) volume dan produksi, (2) ukuran bangunan
pabrik, (3) tata letak dan tata ruang pabrik, (4) lokasi pabrik, (5) metode
produkasi, (6) jumlah persediaan bahan, (7) perlunya pengecekan dan lain-lain.
Bidang
penjualan
Keputusan
yang diambilnya berkaitan dengan, (1) penetapan pasar, (2) lokasi took dan
kantor penjualan, (3) kemasan produksi, (4) merek yang digunakan, (5) saluran
pemasaran, (6) harga, (7) masalah periklanan, (8) metode \kompensasi penjualan,
(9) penelitian pasar, (10) persaingan dan lain sebagainya.
Bidang keuangan
keputusan yang diambil berkaitan dengan, (1) struktur modal, (2)
jumlah modal kerja, (3) jaminan untuk dana baru, (4) pembayaran deviden, (5)
modal yang ditanam kembali untuk memperbesar usaha, (6) rencana pembiayaan
baru, (7) penetapan biayan operasional, (8) likuidasi, (9) perimbanganm antara
aktiva lancer dan utang jangka pendek (currentatio), dan lain sebagainya.
BAB VI
KENDALA DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
A.
KENDALA
YANG BERSUMBER DARI DALAM DIRI PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Kendala
yang paling besar dampaknya dalam pengambilan keputusan itu sesungguhnya adalah
kendala yang bersumber dari dalam diri pengambil keputusan itu sendiri.ada
beberapa faktor yang bisa digolongkan kedalam kendala yang berasal dari dalam
diri pengambil keputusan.
1. Ketidakmampuan Seseorang Untuk
Bertindak Secara Tegas
Kendala yang paling kentara
seperti ketidakmampuan seorang pengambil keputusan itu untuk bertindak secara
tegas.
2. Sikap Ragu-Ragu
Kendala lain yang ikut menghambat
proses pengambilan keputusan adalah sikap ragu-ragu dari diri pengambil
keputusan, seringkali pengambil keputusan membiarkan dirinya diliputi rasa
ragu-ragu sehingga mempengaruhi cara berpikir dan bertindaknya. Seperti yang
dikemukakan oleh S.P. Siagian dalam bukunya yang berjudul “Teori dan Teknik
Pengambilan Keputusan”(1988, hal.178). Seringkali seorang manajer membiarkan
dirinya diliputi keragu-raguan yang sedemikian menguasai cara berpikir dan
bertindaknya, sehingga :
-
Ia menyerahkan pengambilan
keputusan kepada para bawahannya, yang sering dibenarkan dengan dalih
pendelegasian wewenang.
-
Ia mengangkat permasalahan ke
tingkat yang lebih tinggi, sehingga pimpinan pada hierarki yang lebih ataslah
yang kemudian mengambil keputusan.
-
Ia mencari alasan sedemikian rupa,
sehingga peranan mengambil keputusan itu
bergeser secara horizontal kepada
manajer lain yang setingkat.
3. Pengalaman Pahit atau Kegagalan di
Masa Lalu.
Faktor lain yang menjadi kendala
dalam pengambilan keputusan adalah faktor pengalaman yang dialami oleh
pengambil keputusan. Faktor pengalaman yang menghambat disini adalah pengalaman
seperti kegagalan atau pengalaman pahit lain yang dialami oleh seorang
pengambil keputusan, sehingga ia menjadi ragu atau takut dalam mengambil
keputusan. Akibat dari rasa takut atau ragu dari si pengambil keputusan itu, ia
berusaha untuk menutup-nutupi rasa takut itu dengan mencari “perisai” sehingga
ia merasa terlindungi dari kegagalan sebelumnya. Ketakutan untuk berbuat salah
dalam mengambil keputusan pada umumnya mengakibatkan para pengambil keputusan
menjadi bersifat reaktif dan pasif dalam menghadapi suatu permasalahan. Padahal
untuk menjadi pengambil keputusan yang efektif diperlukan sikap yang proaktif.
4. Sikap Malas atau Inertia
Selain itu ada faktor lain yang
termasuk kendala yang berasal dari diri pengambil keputusan, yaitu inertia atau
kemalasan. Sikap inertia mendorong seseorang tidak berbuat apa-apa hingga ia
terpaksa berbuat sesuatu. Ini merupakan jalan pintas yang termudah untuk
menghindari mengambil keputusan terhadap problematika tertentu. Ini merupakan
salah satu bukti ketidakmampuan seseorang untuk bertindak cepat dan tegas dalam
mengambil keputusan. Seseorang yang dihinggapi sikap inertia biasanya suka
mencari “kambing hitam” untuk menutupi kesalahan atau kekurangannya.
- KENDALA FAKTOR KETIDAKPASTIAN
Pengambilan
keputusan merupakan pemilihan diantara beberapa alternatif pemecahan masalah.
Pada hakikatnya keputusan diambil jika pimpinan menghadapi masalah atau untuk
mencegah timbulnya masalah dalam organisasi yang bergerak baik dalam bidang
sosial maupun komersial. Ada dua kemungkinan sifat tujuan dari pengambilan
keputusan. Pertama adalah tujuan pengambilan keputusan yang bersifat tunggal
dalam arti bahwa sekali diputuskan tidak akan ada kaitannya dengan masalah
lain. Kemungkinan kedua adalah tujuan pengambilan keputusan dapat bersifat
ganda dalam arti bahwa satu keputusan yang diambil sekaligus memecahkan dua
masalah atau lebih yang sifatnya kontradiktif ataupun non-kontradiktif.
Dalam
setiap pengambilan keputusan para pengambil keputusan akan selalu berhadapan
dengan lingkungan, dimana salah satu karakteristiknya yang paling menyulitkan
dalam proses pengambilan keputusan adalah ketidakpastian (Uncertainty),
ini adalah salah satu sifat dimana tidak akan dapat diketahui dengan pasti apa
yang akan terjadi di masa yang datang.
Selain
sifat ketidakpastian ini lingkungan juga bersifat kompleks, dimana begitu
banyak faktor yang berinteraksi dalam berbagai cara sehingga sering tidak
diketahui lagi bagaimana interaksi tersebut berlangsung. Sehingga tidak dapat
disangkal lagi bahwa ketidakpastian merupakan salah satu kendala yang di hadapi
dalam pengambilan keputusan. Karena itu kemampuan memperhitungkan dan mengatasi
kendala tersebut turut pula menentukan tingkat efektivitas seorang sebagai
pengambil keputusan. Ketidakpastias dapat dikatakan menjadi kendala dalam
proses pengambilan keputusan karena :
1.
Mungkin kurangnya
keyakinan dalam diri manajer yang bersangkutan tentang hasil yang diperoleh
dari keputusan yang diambil.
2.
Preferensi pribadi
manajer yang bersangkutan atas alternative yang yang mungkin ditempuh, yang
bisa saja berbeda dari alternative – alternative yag ditemui melalui pendekatan
ilmiah.
3.
Manajer yang
bersangkuatan meragukan apakah keputusan baru diperlukan.
- KETERLIBATAN POK (Petunjuk
Operasional Kegiatan)
POK dalam organisasi, khususnya
organisasi yang mempengaruhi situasi
kegiatan sosial, ekonomi, sangatlah memegang peranan yang penting. Sebagian besar proses pencapaian tujuan
organisasi akan ditentukan oleh kemampuan POK yang memegang peranan penting dalam menggerakkan
orang-orang pada suatu tujuan tertentu.
Salah satu masalah yang sangat populer
dewasa ini adalah masalah manajemen. Pentingnya manajemen merupakan salah satu
alat dalam kehidupan suatu organisasi, baik organisasi pemerintah, swasta.
orpol maupun ormas; terutama dalam bidang kehidupan manusia selalu mendapat
perhatian dari masyarakat. Dalam hal ini inti manajemen adalah
kepemimpinan/leadership yang selalu
dititikberatkan kepada pimpinan. Pimpinanlah yang merupakan motor penggerak
dari sesuatu usaha atau kegiatan, Sering juga dikemukakan, bahwa keterlibatan Petunjuk
Operasional Kegiatan dalam proses pengambilan keputusan kadang – kadang menjadi
kendala yang menghambat dalam melaksanakan keputusan, Dimana Peranan POK dalam
organisasi dapat pula dikatakan menghambat proses pengambilan keputusan,
apabila POK lebih memonopoli organisasi dalam segala hal, sehingga apabila terjadi
permasalahan dalam organisasi yang ditemui dalam lingkup tanggung jawab anak
buahnya maka dia sulit untuk mengambil keputusan karena adanya monopoli
tersebut.
- KETIDAKJELASAN PERANAN
Teory pengorganisasian member petunjuk, antara
lain bahwa dalam suatu organisasi yang tersusun dengan baik, apabila lima
pertanyaan berikut ini harus bisa terjawab dengan memuaskan yaitu :
1.
Siapa yang melakukan apa
2.
Siapa yang bertanggung jawab
kepada siapa.
3.
Siapa yang berhubungan dengan
siapa, dan dalam hal apa
4.
Jaringan informasi apa yang ada, dan
dimanfaatkan untuk kepentingan apa.
5.
Saluran komunikasi apa yang
tersedia, dan bagaimana tata karma penggunaannya.
Jawaban terhadap kelima pertanyaan tersebut
pada gilirannya akan memperjelas peranan apa yang dimainkan oleh siapa dan
serius dalam banyak organisasi. Ketidak jelasan peranan itu dapat berakibat
pada berbagai hal yang negatif seperti :
a.
Kemungkinan seorang bertindak
melampaui batas – batas kewenangan yang sesungguhnya dimiliki.
b.
Kemungkinan keragu – raguan
bertindak karena ketidak pastian, apakah tindakan yang hendak diambilnya masih
dalam batas wewenang yang dimilikinya
c.
Kemungkinan tumpang tindih
kegiatan .
d.
Kemungkinan terjadinya duplikasi
e.
Kemungkinan tidak lancarnya
koordinasi
f.
Laporang yang tidak ditangani
sebagaimana mestinya.
g.
Dan berbagai hal negatif lainnya.
Salah satu cara yang sering digunakan untuk
mengatasi kendala demikian adalah dengan menetapkan uraian tugas yang jelas dan
lengkap, tidak hanya menyangkut satuan – satuan kerja dalam organisasi, akan
tetapi juga menyangkut setiap anggota organisasi yang bersangkutan.
DAFTAR
PUSTAKA
Basyaib, Fahmi, 2006. Teori Pembuatan Keputusan. Jakarta.
Grasindo
Randhani, M.A. dan Suryadi Kadarsah. 2000. Sistem Pendukung Keputusan. Bandung. PT
Remaja Rosdakarya.
Salusu, J,
1996. Pengambilan Keputusan Stratejik.
Jakarta. Grasindo
Syamsi, Ibnu. 1995. Pengambilan
Keputusan. Jakarta. Bina Aksara.
Tim Pengajar Subyek. 2004. Teknik Pengambilan Keputusan. Bandung.
Alqaprint Jatinangor.
No comments:
Post a Comment