LIMA STRATEGI : MENGUBAH DNA PEMERINTAHAN
MARGARET THATCHER : MENEMUKAN KEKUATAN STRATEGI
Sampai
dengan tahun 1986, Margaret Thatcher frustasi atas ketidakmampuannya dalam
mengubah birokrasi Inggris. Selama tujuh tahun ia sudah melakukan berbagai
upaya untuk mengubah perilaku pegawai negerinya, seperti melakukan perampingan,
privatisasi, audit efisiensi, berperang melawan serikat pegawai tetapi ia
gagal. Naluri Thatcher saat itu adalah untuk memangkas birokrasi. Terbukti
dalam rapat kabinetnya yang pertama ia mengumumkan penyetopan rekrutmen pegawai
dan pemotongan 3% dalam tubuh pamong praja, beberapa bula kemudian ia
menetapkan pemotongan lagi sebesar 5%. Ia selanjutnya meminta kepada Sir Derek
Rayner untuk melaksanakan “pemeriksaan efisiensi” yaitu suatu proses yang
dirancang untuk merampingkan operasi dan menghilangkan pemborosan dengan
langkah mengaudit efisiensi terhadap beberapa program dan proses. Thatcher juga
melakukan perubahan pada serikat pegawai sektor pemerintahan, mendorong
reformasi dengan melarang kerja piket tambahan, membatasi bengkel-bengkel
serikat pegawai, dan mendorong kerahasiaan suara dalam pemilihan serikat
pegawai.
Senjata
utama Thatcher adalah privatisasi. Reformasi ini tidak hanya memaksa pemerintah
daerah untuk mengubah cara kerjanya, tetapi juga membantu membantu menyusutkan
besarnya pemerintah. Selama pemerintahannya pegawai negeri turun dari 30%
menjadi 24% dari keseluruhan tenaga kerja.
Privatisasi tidak hanya memperkecil ukuran pemerintah, tetapi juga
membebaskan perusahaan-perusahaan untuk mentransformasi diri menjadi pemimpin
bisnis di dunia.
Menyumbat
birokrasi tidak membawa perdana menteri kearah yang sebenarnya ingin dituju.
Ketika Ia melakukan privatisasi sebuah perusahaan atau memangkas anggaran atau
meluncurkan pemeriksaan efisiensi, tidak dad yang berubah di
departemen-departemen lainnya. Tidak ada efek domino yang terjadi. Ia
membuhtukan strategi lebih dari sekedar privatisasi dan pengawasan efisiensi.
Bahkan ia berencana untuk menggunakan serangkaian pendongkrak utama :
Ø Privatisasi fungsi-fungsi yang bisa
dilaksanakan dengan lebih baik oleh bisnis yang beroperasi di pasar kompetitif;
Ø Memisahkan antara fungsi
mengerahkan dan melaksanakan;
Ø Kontrak kerja
Ø Disentralisasi wewenang kepada
unit-unit yang bertanggung jawab;
Ø Kompetensi pemerintah –swasta;
Ø Pertanggungjawaban kepada pelanggan
melalui pilihan, standar pelayanan pelanggan dan ganti rugi bagi pelanggan.
Ada banyak cara untuk mengkatagorikan pendongkrak utama
perubahan ini. Kami telah mengkelompokannya ke dalam 5 strategi dasar.
Masing-masing strategi mencakup beberapa pendekatan dan alat untuk metodenya.
Untuk tiap pendongkrak kami telah menetapkan sebuah strategi. Strategi itu kami
sebut sebagai “Lima strategi”.
|
Lima
Strategi
|
||
|
Pendongkrak
|
Strategi
|
Pendekatan
|
|
Tujuan
|
Strategi
|
Kejelasan
Tujuan
Kejelasan
Peran
Kejelasan
Arah
|
|
Insentif
|
Strategi
Konsekuensi
|
Persaingan
terkendali
Manajemen
Perusahaan
Manajemen
Kinerja
|
|
Pertanggungjawaban
|
Strategi
Pelanggan
|
Pilihan
Pelanggan
Pilihan
Kompetitif
Pemastian
Mutu Pelanggan
|
|
Kekuasaan
|
Strategi
Pengendalian
|
Organisasional
Pemberdayaan
Karyawan
Pemberdayaan
Masyarakat
|
|
Budaya
|
Strategi
Budaya
|
Menghentikan
Kebiasaan
Menyentuh
Perasaaan
Mengubah
Pikiran
|
A.
STRATEGI INTI
Bagian
kritis pertama bagian DNA adalah bagian yang menentukan tujuan sistem dan
organisasi pemerintah. Jika suatu organisasi tidak jelas tujuannya atau punya
tujuan ganda dan saling bertentangan maka organisasi itu tidak bisa mencapai
kinerja yang tinggi. Strategi yang menjelaskan tujuan adalah strategi inti.
Karena berkaitan dengan fungsi inti pemerintahan yaitu fungsi mengarahkan.
Empat strategi lainnya lebih memusatkan pada perbaikan fungsi melaksanakan.
Strategi inti terutama mengenai perbaikan fungsi mengarah. Strategi ini
menghapus fungsi-fungsi yang tidak lagi menjalnkan tujuan pemerintah yang
sebenarnya, fungsi yang bisa lebih baik jika dikerjakan oleh sektor swasta atau
oleh tingkat pemerintahan yang lain. Strategi ini memisahkan fungsi mengarah
dari fungsi melaksanakan (dan fungsi pelayanan dari penegakan), sehingga tiap
organisasi dapat memusatkan pada satu tujuan. Dan strategi ini meniungkatkan
kemampua pemerintah untuk mengarahkan dengan menciptakan mekanisme baru guna
mendefinisikan tujuan dan strategi.
Seperti
yang terjadi di Selandia Baru, para
pembaru Selandia Baru bergerak lebih cepat dan lebih agresif dari pad pembaru
linnya di dunia ini. Dalam proses tersebut mereka menggunakan seluruh strategi
inti. Mereka menghapus atau menswastakan fungsi-fungsi yang tidak konsisten
dengan tujuan inti pemerintahan. Mereka melepaskan fungsi-fungsi yang secara
fundamental berbeda tujuannya dengan kebijakan, pengaturan, penyampaian
pelayana, dan penegakan serta menempatkannya dalam organiosasi yang berbeda,
sehingga masing-masing bisa lebih efektif mencapai misinya. Dalam proses
tersebut Selandi Baru memperlihatkan tiga pendekatan dasar dari strategi inti :
1.
Membersihkan
fungsi yang tidak perlu;
2.
Memisahkan
fungsi pengarahan dengan fungsi pelaksanaan;
3.
Memperbaiki
tujuan.
Mencapai kejelasan tujuan, peran dan arah tidak secara
otomatis bisa memperbaiki kinerja tetapi bisa menciptakan kondisi untuk
memungkinkan terjadinya perbaikan kinerja. Itulah sebabnya
organisasi-organisasi dengan tujuan yang jelas, seperti organisasi militer dan
departemen-departemen yang menghasilkan pendapatan sering kali lebih unggul.
Ini juga merupakan satu alasan mengapa pembaharuan lebih mudah dilakukan dalam
sistem parlementer dan dalam pemerintahan daerah. Dalam sistem parlemen partai
yang berkuasa mempunyai kekuasaan, dengan sedikit check and balance, untuk
mendefenisikan secara jelas dan mengejar tujuan dan sasarannya. Dan dalam
pemerintahan daerah yang berskala kecil dan menengah, terdapat lebih sedikit
perjuangan politik atas tujuan dan sasaran dari pada dalam pemerintahan yang
lebih besar. Oleh karena itu jauh lebih mudah bagi para pemimpin untuk
memperoleh suatu kadar kejelasan.
Alat
untuk membersihkan fungsi yang tidak sejalan :
1)
Kajian
kinerja atau kajian program adalah kebijakan berskala, umumnya melibatkan
sejumlah besar orang, untuk menyusun rekomendasi menghapus, menswastakan,
memindahkan, merekontruksi atau mereformasi program-program pemerintah.
2)
Kajian
pilihan awal adalah kajian yang dikembangkan oleh pemerintah Inggris, dimana
setiap lima tahun sekali menilai apakah suatu badan dan fungsi-fungsinya harus
dihapus, diswastakan, direorganisasi atau di restukturisasi.
3)
Kaidah
matahari terbenam mensyaratkan agar program dan atu regulasi diotorisasi/disahkan
kembali secara berskala (biasanya setiap 7 tahun)
Penjualan
aset memindahkan aset pemerintah, seperti perusahaan,bandar udara, bendungan,
atau jalan kereta api kepada pemilik swasta. Dikebanyakan negara penjualan ini
disebut sebagai “privatisasi”, tetapi di USA istilah privatisasi juga di gunakan
untuk pengontrakan fungsi-fungsi keluar dan metoda-metoda lain.
4)
Metode
Kuasi-privatisasi pemerintah mempertahankan kepemilikan aset, tetapi
menyerahkan operasinya kepada swasta untuk periode waktu yang lama. Metode yang
umumnya digunakan sewa jangka panjang.
5)
Devolusi
mengalihkan atau menyerahkan suatu fungsi atau aktivitas ketingkat pemerintahan
yang lebih rendah (propinsi, kab/kota, atau kecamatan.
Keuntungan dari Pemisahan fungsi :
v Memberikan kebebasan para manjer
pembuat kebijakan untuk memilih pemasok yng paling efektif dan efisian sehingga
bisa berhemat.
v Pemisahan memungkinkan para manajer
pembuat kebijakan untuk memanfaatkan kompetisi diantar pemasok jasa.
v Pemisahan mempertahankan
fleksibilitas yang maksimum untuk menanggapi keadaan yang berubah.
v Organisasi pengarah juga bisa
memilih penyedia jasa khususnya yang memiliki keterampilan unik untuk melayani
kelompok masyarkat tertentu.
v Organisasi pengarah bahkan bisa
meminta uji coba dan mengambil pelajaran dari keberhasilan/kegagalan uji coba
tersebut.
v Organisasi dapat memberikan solusi
yang lebih komprehensif, memecahkan akar permasalahan.
Alat untuk memisahkan fungsi pengarahan dari fungsi
pelaksanaan
·
Kerangka
kinerja fleksibel adalah suatu metatool yang memisahkan beragam fungsi ke dalam
organisasi yang berbeda-beda dan menggunakan kontrak untuk menguraikan tujuan,
hasil-hasil yang mereka harapan, konsekuensi kinerja mereka, dan fleksibilitas
manajemen mereka.
·
Tender
kompetitif adalah suatu metatool dengan membawa proses pemisahan selangkah
lebih jauh dengan mensyaratkan fungsi-fungsi pelaksanaan mengajukan penawaran
kompetitif dalam suatu tender. Biasanya baik organisasi pemerintah maupun
swasta bisa ikut dalam tender tersebut.
B.
STRATEGI KONSEKUENSI
Bagian
penting kedua dari DNA sistem pemerintahan adalah DNA yang menentukan sistem
insentif pemerintah. DNA birokratis memberi insentif yang kuat kepada pegawai
untuk taat aturan dan tunduk. Inovasi hanya akan membawa kesulitan. Pegawai
dibayar sama tanpa memandang hasil. Dan sebagian besar organisasi adalah
monopoli atau mendekati monopoli yang diisolasi dari kegagalan-kegagalan
mereka. Tidak seperti perusahaan swasta, mereka tidak kehilangan pendapat atau
keluar dari bisnis jika pesing bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik. Para
pembaharu menulis kembali kode genetika untuk mengubah insentif ini dengan menciptakan konsekuensi atas kinerja
yang dihasilkan. Bila sesuai mereka memasukkan organisasi-organisasi pemerintahan
kedalam pasar dan membuat mereka bergantung langsung pada pelanggan dalam hal
pendapatan. Bila tidak sesuai mereka menggunakan kontrak untuk menciptakan
persaingan antara organisasi pemerintah dan swasta / organisasi pemerintah
dengan pemerintah. Sebagaimana dilakukan oleh Inggris melalui pengujian pasar
dan tender wajib. Bila salah satu tidak ada yang tepat mereka hanya mengukur
kinerja dan menciptakan konsekuensi (positif/negatif). Pasar dan persaingan
menciptakan insentif yang jauh lebih kuat dan oleh karena itu peningkatan
kinerja yang lebih besar tetapi tidak semua kegiatan pemerintah dapat
dimasukkan ke pasar yang kompetitif atau penawaran bersaing.
Membuat kebijakan tanpa PHK :
ü Melatih kembali pegawai dan
menempatkannya pada pekerjaan lain di organisasi pemerintah;
ü Mempertahankan beberapa posisi yang
kosong sebagai bank pekerjaan bagi pegawai yang kehilangan pekerjaan;
ü Mensyaratkan kontraktor swasta
untuk memprioritaskan mengangkat pegawai yang kehilangan pekerjaan akibat
transaksi kontrak tersebut;
ü Mempertahankan pegawai yang hampir
pensiun tetap sebagai pegawai negeri, tetapi kontraktor swasta yang menanggung
biayanya;
ü Mensyaratkan kontraktor swasta
untuk membayar gaji dan tunjangan karyawan sama dengan ketika karyawan menjadi
pegawai negeri;
ü Membantu manajer pegawai negeri
menjalankan organisasinya sebagai organisasi swasta;
ü Menawarkan paket insentif PHK atau
pensiun dini;
ü Menyediakan jasa penempatan kerja.
Tiga pendekatan untuk memperkenalkan konsekuensi :
a.
Pendekatan
manajemen perusahaan
Merupalkan pendekatan untuk memaksa
organisasi pemberi pelayanan yang berfungsi sebagai mana perusahaan bisnis
dengan laba sebagai tujuan akhirnya, terutama di pasar kompetitif.
b.
Pendekatan
kompetisi teratur
Kompetisi tidak hanya menghemat
uang, tetapi juga membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap
pemerintah. Alat pendekatan kompetisi teratur :
§ Tender kompetitif adalah memaksa
organisasi untuk berkompetisi untuk menyediakan barang atau jasa yang akan
dibayar oleh sektor pemerintah.
§ Benchmarking kompetitif adalah
mengukur dan membandingkan kinerja organisasi pemerintah.
c.
Pendekatan
manajemen kinerja
Pendekatan ini memiliki ancaman
lebih kecil terhadap pegawai maupun politisi karena mempetahankan
monopolipemerintah bukan memotongnya. Dengan
pendekatan ini tidak ada pegawai yang kehilangan pekerjaannya karena
direbut oleh pesaing swasta.
C.
STRATEGI PELANGGAN
Bagian fundamental berikutnya dari sistem DNA terutama
memusatkan pada akuntabilitas. Dengan membuat organisasi bertanggung jawab
kepada pelanggan mereka, strategi pelanggan yang paling erat hubungannya dengan
persoalan tanggung jawab. Sebagian besar entitas pemerintah bertanggung jawab
kepada pejabat terpilih, yang membuat entitas itu,menentukan fungsi mereka dan
mendanai mereka. Karena pejabat-pejabat ditekan terus menerus untuk menjawab
tuntutan kelompok-kelompok kepentingan, mereka
sering lebih peduli terhadap penggunaan sumber daya pemerintah dari pada
terhadap hasil-hasil yang mereka peroleh.
Strategi ini memecah pola dengan menggeser sebagian
pertanggungjawaban kepada pelanggan. Strategi ini memberikan pilihan kepada
pelanggan mengenai organisasi yang memberikan pelayanan dan menetapkan standar
pelayanan pelanggan yang harus dipenuhi oleh organisasi-organisasi itu.
Penciptaan pertanggungjawaban kepada pelanggan semakin menekan
organisasi-organisasi pemerintah untuk memperbaiki hasil-hasil mereka, tidak
sekedar mengelola sumber daya mereka. Strategi ini menciptakan informasi kepada
kepuasan pelanggan terhadap pelayanan dan hasil-hasil tertentu dari pemerintah
yang sulit untuk diabaikan oleh pejabat
terpilih, manajer pemerintah, dan pegawai. Dan strategi ini memberi
organisasi-organisasi pemerintah sasaran yang tepat untuk dibidik dalam
meningkatkan kepuasan pelanggan.
Definisi pelanggan, complier dan stakeholder
a.
Pelanggan
utama : individu atau kelompok dimana pekerjaan anda terutama dirancang untuk
membantu mereka.
b.
Pelanggan
sekunder : individu atau kelompokm lain dimana pekerjaan anda dirancang untuk
memberi manfaat kepada mereka tetapi sifatnya tidak langsung sebagaimana pada
pelanggan utama.
c.
Complier
: subjek penegakan, mereka yang ahrus mematuhi hukum dan peraturan, misal wajib
pajak dalam kaitannya dengan kontor pembayaran pajak.
d.
Stakeholder
: individu atau kelompok yang memiliki kepentingan dengan kinerja organisasi
atau sistem pemerintah. Contoh guru dalam sekolah negeri.
Tiga pendekatan strategi pelanggan :
1.
Memberikan
pilihan kepada pelanggan.
Pilihan memiliki nilai yang melekat
untuk pelanggan. Pilihan pelanggan bisa berjalan lebih baik untuk fungsi
pelayanan. Tetapi pendekatan ini tidaK bisa diterapkan untuk fungsi kebijakan
dan memiliki manfaat terbatas untuk fungsi penegak. Agar sistem pilihan
pelanggan efektif terdapat sejumlah kriteria dasar yang harus dipenuhi :
§ Harus terdapat jumlah pemasok yang
cukup untuk memberi pilihan yang nyata bagi pelanggan.
§ Pelanggan harus memiliki sumber
daya yang memadai untuk menciptakan permintaan yang dibutuhkan untuk
menghasilkan pasokan dari penyedia jasa.
§ Pelanggan memerlukan informasai
yang manfaat bisa diandalkan dan bisa diakses mengenai mutu dan biaya yang
ditetapkan oleh masing-masing penyedia jasa.
§ Pemerintah perlu menyusun peraturan
pasar secara cermat kemudian menegakkan peraturan tersebut.
2.
Pilihan
kompetittif
Mengkombinasikan strategi pelanggan
dengan konsekuensi, dengan memberi kesempatN kepada pelanggan untuk
mengontrol sumber daya dan membawanya
sesuai pilihan untuk memaksa penyedia pelayanan berkompetisi. Pendekatan ini
lebih jauh ampuh ketimbang pilihan pelanggan semata tetapi penggunanya hanya
terbatas terutam pada pelayanan. Pemerintah yang menggunakan pilihan kompetitif
harus benar-benar waspada terhadap beberapa masalah tambahan lainnya :
ü Mereka harus mencegah kecurangan
(tendensi penyedia jasa untuk memilih pelanggan yang tebaik atau yang paling
mudah dilayani.
ü Mereka harus mencegah danpak
perilaku pasar yang deceptiv.
ü Mereka harus mencegah meningkatnya
segregasi kelas atau ras.
3.
Pemastian
mutu pelanggan
Menetapkan standar pelayanan
pelanggan dan menciptakan imbalan bagi
organisasi yang melakukan pekerjaan dengan baik dalam memenuhi standar
tersebut dan menghukum mereka yang tidak bisa memenuhi standar tersebut. Ini
merupakan manajemen kinerja versi pelanggan. Citizen’s Charter
mengartikulasikan enam prinsip yang menjadi harapan setiap anggota masyarakat :
a. Standar : menetapkan, memantau, dan
mempublikasikan standar eksplisit jas yang bisa diharapkan oleh pengguna.
b. Informasi dan keterbukaan :
informasi yang lengkap dan akurat mengenai bagaimana pelayanan publik
dilakukan, berapa biayanya, seberapa baik mereka akan melakukannya, dan siapa
yang bertanggung jawab, tersedia dalam bahasa yang sederhana.
c. Pilihan dan konsultansi : sektor
pemerintah harus menyediakan pilihan apabila memang praktis. Harus ada
konsultasi yang teratur dan sistematis dengan penggun jasa.
d. Ketulusan dan keramahan : pelayanan yang tulus
dan ramah dari pegawai negeri yang biasanya menggunkan tanda nama.
e. Meletakan secara tepat : jika ada
sesuatu yang salah perlu adanya permintaan maaf, penjelasan yang lengkap dan
ketangkasan serta pemulihan yang yang efektif.
f. Nilai untuk uang : penyampaian
pelayanan publik yang efisien dan ekoomis dalam batas-batas sumber daya yang
bisa disediakan oleh negara. Perlu ada validasi kinerja terhadap standar.
D.
STRATEGI KONTROL
Bagian keempat dari DNA menentukan letak kekuasaan
pengambilan keputusan. Dalam sistem biokrasi sebagian kekuasaan tetap ada di
dekat puncak hierarki. Strategi pengendalian secara signifikan mendorong turun
kekuasan pengambilan keputusan melalui hierarki dan kadang-kadang kerluar ke
kelompok masyarakat. Strategi ini menggeser bentuk pengendalian yang digunakan
dari aturan-aturan yang rinci serta komando hierarkis ke misi bersama dan
sistem yang menciptakan akuntabilitas kinerja. Strategi ini memberdayakan
pegawai dengan mendorang wewenang pengambilan keputusan, menanggapi pelanggan dan
memecahkan masalah ke mereka yang memiliki pengetahuan lini depan sebagaimana
dimiliki oleh badan pelaksana.
Strategi kontrol mengubah baik locus (tempat) ataupun
bentuknya pada sistem dan organisasi pemerintah. Semula kontrol didoring dari
atas melalui berbagai jenjang dan terkadang keluar (dari organisasi pemerintah)
menuju ke masyarakat. Sistem birokrasi tradisional diganti dengan sistem baru
yang dibangun atas visi dan nilai bersama dan sasaran kerja eksplisit. Lima
langkah tindakan strategi kontrol antra lain :
1.
Tetapkan
misi dan nilai orgnisasi secara jelas dan buat agar pegawai memahami dan
menerimanya;
2.
Tetapkan
hasil yang akan diinginkan;
3.
Percayai
pegawai dengan memberi wewenang membuat keputusan dan sumber daya agar bisa
mendapatkan hasil yang di tetapkan;
4.
Ujilah
apakah mereka mendapatkan hasil yang telah ditetapkan;
5.
Buatlah
agar mereka accountable dalam upaya mereka mendapatkan hasil yang ditetapkan.
Banyak orang percaya bahwa desentralisasi bearti kehilangan
kontrol. Anggapan tersebut jelas keliru. Desentralisasi bearti memperbaiki
kontrol jika kontrol dibuat sebagai kontrol terhadap proses bukan kontrol
terhadap orang. Maka, semakin banyak orang mengontrol proses maka semakin
banyak orang yang peduli terhadap proses yang benar. Tiga pendekatan dalam
strategi kontrol :
a)
Pemberdayaan
organisasi
Pendekatan ini memberdayakan
organisasi dengan menghapus banyak peraturan dan berbagai kontrol lain yang
dipegang oleh badan administratif pusat, badan legeslatif, badan eksekutif dan
badan-badan tingkat tinggi lainnya. Alat pemberdayaan organisasi :
·
Desentralisasi
kontrol administratif : mengalihkan wewenang kepada badan-badan lini pelaksana
untuk mengelola personil, keuangan dan pengadaan mereka sendiri dengan mandat
dan minimuim dari badan administratif pusat.
·
Deregulasi
organisasional : menghapus banyak peraturan internal dan perundang-undangan
yang diciptakan oleh dewan, badan pusat yang mendikte perilaku organisasi
pemerintah.
·
Manajemen
berdasarkan tempat : mengalihkan kontrol berdasarkan terhadap sumber daya dan
keputusan sehari-hari kantor pusat suatu sistem. Misal kanwi depdikbud/depnaker.
·
Pengecualian
atau piagam : memungkinkan organisasi pemerintah yang sudah ada/ yang baru
untuk beroperasi diluar juridiksi sistem kontrol pemerintah poad umumnya.
·
Laboratorium
pembaruan : organisasi pemerintah yang menerima ijin untuk sementara waktu
diperbolehkan meninggalkan peraturan dan prosedur administratif dan mencoba
cara baru untuk memperbaiki kinerja.
·
Kebijakan
pembebasan adalah mekanisme yang digunakan oleh badan pusat untuk secara
temporer membebaskan organisasi dari peraturan-peraturan berdasarkan kasus demi
kasus.
·
Beta
Sites adalah organisasi pemerintahan yang mengimplementasikan gagasan baru,
seperti pemberdayaan pegawai, yang diadopsi seluruh sistem pemerintahan.
·
Pembatasan
Waktu Peraturan menetapkan batas waktu aturan atau peraturan yang mengontrol
perilaku administratif organisasi. Apabila batas waktu yang ditetapkan telah
habis, maka peraturan tersebut dianggap tidak berlaku kecuali disetujui
kembali.
·
Deregulasi
Interapemerintahan melibatkan perjanjian pencabutan diantara berbagai tingkat
pemerintahan, biasanya dinegosiasikan berdasrkan kasus demi kasus.
b)
Pemberdayaan
Pegawai
Pemberdayaan adalah mempercayaai
orang dibawah anda untuk melakukan tugas. Ketika organisasi mendapat otonomi
dari pusat, sebenarnya yang memperoleh adalah pemimpinnya (para manajer di
puncak hierarki badan pemerintah). Ada beberapa cara untuk mendorong manajer
melakukan deregulasi badan yang dikelolanya dan memberikan kekuasaan yang
diterimanya kepada pegawai lini pertama :
Ø Ciptakan konsekuensi untuk
menyerahkan kekuasaan kebawah.
Ø Buat kekuatan pendorong.
Ø Beri penjelasan para manajer
mengenai manfaat memberi kebebasan.
Ø Jika mereka tidak bisa memberi
kebebasan maka bebaskan mereka.
Alat pemberdayaan pegawai :
Ø Pengurangan lapisan manajemen :
menghapus lapisan manajer menengah (supervisor), inspektor, asisten diantara
pegawai lini depan dengan manajemen puncak.
Ø Desentralisasi organisasi :
memindahkan kontrol dari manajer tingkat puncak ke unit lini depan dalam
organisasi.
Ø Memecah kelompok-kelompok
fungsional : menghapus unit-unit birokratis dan proses kerja berdasarkan
spesialisasi fungsional, memindahkan fungsi-tersebut ke tim-tim kerja yang
diberi tanggung jawab untuk memberi hasil bagi pelanggannya.
Ø Tim kerja : kelompok pegawai yang
saling bekerja sama untuk memcapai tujuan kinerja bersama.
Ø Tim kerja mandiri : tim kerja yang
melakukan tugas pensupervisian sendiri.
Ø Kemitraan pegawai (manajemen) : kesepakatan antara manajer
dengan organisasi pegawai untuk bersama-sama meningkatkan kinerja organisasi
dan kondisi kerja.
Ø Program saran pegawai : memberi
mekanisme formal kepada para pegawai untuk berbagi gagasan dengan para manajer
mengenai cara menuingkatkan kinerja.
c)
Pemberdayaan
masyarakat
Pemberdayaan masyarakat biasanya
digunakan untuk mengalihkan kontrol pemerintah ke komunitas berdasarkan tempat.
Keunggulan pemberdayaan masyarakat
sebagai berikut :
v Masyarakat lebih memiliki komitmen
terhadap anggotanya dibanding sistem pemberian pelayanan terhadap kliennya.
v Masyarakat lebih memahami
permasalahannya sendiri dibanding pemberi jasa profesional.
v Profesional dan birokrasi
memberikan pelayanan ; masyarakat memecahkan permasalahan.
v Lembaga dan profesional menawarkan
jasa ; masyarakat menawarkan kepedulian.
v Masyarakat lebih fleksibel dan
lebih kreatif dibanding pelayanan birokrasi yang besar.
v Masyarakat jauh lebih murah
dibanding profesional.
v Masyarakat menegakkan standar
perilaku secara lebih efektif dibanding birokrasi atau profesional.
v Masyarakat memfokuskan pada
kapasitas ; sistem jasa memfokuskan pada defisiensi.
Alat pemberdayaan masyarakat
v Badan pemerintah masyarakat :
mengalihkan kontrol dalam hal arah organisasi pemerintah dari pejabat terpilih
dan pegawai negeri kepada anggota masyarakat.
v Perencanaan koraboratif
memungkinkan semua pihak yang berkepentingan (stakeholder), seperti penduduk
atau kelompok advokasi, untuk bergabung dengan pejabat pemerintah dalam perencanaan
berdasarkan konsensus untuk masyarakat mereka.
v Dana investasi masyarakat : dana
pemerintah yang dikontrol oleh badan berbasis masyarakat seperti kelompok rukun
warga.
v Organisasi dikelola masyarakat
adalah organisasi yang menjalankan pelayanan publik tetapi dikelola dan
dioperasikan oleh kelompok masyarakat bukan badan pemerintah.
v Kemitraan pemerintah (masyarakat) :
adalah usaha patungan antara masyarakat dengan badan pemerintah yang memiliki
tujuan dan operasi yang sama.
v Pembuatan peraturan dan penegakan
ketertiban berbasis masyarakat memindahkan kontrol fungsi pembuatan peraturan
dan penegakan ketertiban kepada maasyarakat.
E.
STRATEGI BUDAYA
Akhirnya, bagian kritis terakhir dari DNA sistem pemerintah
adalah DNA yang menentukan budaya organisasi pemerintah: nilai-nilai, norma,
sikap, dan harapan pegawai. Budaya organisasi adalah seperangkat perilaku,
perasaan dan psikologis yang terinternalisasi sangat mendalam dan dimiliki
bersama pleh anggota orgnisasi. Budaya sangat dipengaruhi oleh bagian DNA lainnya:
oleh tujuan organisasi, sistem insentif, sistem pertanggungjawabannya, dan
stuktur kekuasannya. Ubalah unsur-unsur ini maka budaya akan berubah. Tetapi
budaya tidak selalu berubah persis seperti apa yang diharapkan para
pemimpinnya. Kadang-kadang budaya akan memperkeras resistensi da kebencian.
Sering kali budaya akan berubah lamban sekali dalam memuaskan pelanggan dan
pembuat kebijakan. Oleh karena itu telah ditentukan bahwa sebenarnya setiap
organisasi yang telah menggunakan empat srategi lainnya akhirnya harus
memutuskan untuk mengubah budaya organisasinya.
Sistem birokrasi menggunakan spesifikasi yang rinci antara
lain : unit-unit fungsional, aturan prosedur, dan uraian pekerjaan untuk
membentuk hal-hal yang harus dikerjaan pegawai. Spesifikasi itu membuat
inisiatif jadi beresiko. Apabila pegawai terbiasa dengan kondisi seperti ini
akibatnya mereka menjadi pembawa budaya itu. Mereka menjadi reaktif
menggantungkan diri, takut mengambil terlalu banyak inisiatif sendirian. Dengan
cara demikian, DNA birokrasi menciptakan budaya takut, menyalahkan dan sikap
defensif.
Mengubah sebuah budaya organisasi bukanlah lmu, prosesnya
tidak bisa sekedar dibuat rencananya dan kemudian di emplementasikan begitu
saja. Budaya organisasi mengandung sangat banyak variabel. Faktor pembentuk
budaya organisasi antara lain : tujuan, sistem insentif, sistem
pertanggungjawaban, struktur kekuasaan, sistem administrasi, struktur
orgaisasional, proses kerja, tugas organisasional, lingkungan eksternal,
riwayat dan tradisi, praktek menajemen, predisposisi pemimpin, predisposisi
pegawai.
Tiga pendekatan dasar yang bisa digunakan untuk mengubah
budaya organisasi :
1)
Mengubah
kebiasaan
Pendekatan ini menceburkan pegawai
ke dalam pengalaman baru yang menentang kebiasaan mereka di tempat kerja dan
mendorong mereks untuk berperilaku dengan cara yang baru. Menceburkan orang
kedalam pengalaman baru merupakn cara yang paling ampuh untuk mengubah budaya
organisasi. Cara ini membuka kembali pkiran mereka. Tetapi yang lebih penting
cara ini mengubah cara kerja mereka. Mengubah kebiasaan kita bukanlah pekerjaan
yang gampang. Alat untuk mengubah kebiasaan antara lain :
o Menemui pelanggan : mempertemukan
pegawai dengan orang-orang yang dilayani atau dibantu, baik melaui kelompok
fokus, percakapan, atau bekerja pda lini
pertama.
o Menjadi pelanggan : dilakukan denga
cara meminta pegawai untuk menjadi pelanggan melewati sistem mereka sendiri,
o Rotasi kerja : memindahkan pegawai
melewati berbagai pekerjaan yang berbeda-beda dalam organisasi, mereka
mengambil tangung jawab secara penuh pekerjaan yang ditangani dalam jangka
waktu cukup lama untuk mempelajari yang ada dalam pekerjaan tersebut.
o Internship dan eksternship :
membewa orang luar kedalam organisasi selama beberapa tahun, untk memberi
pengalaman baru bagi organisasi, dan mengirim anggota organisasi keluar untuk
bekerja di organisasi lain dalam jangka waktu yang sama dengan orang luar yang
bekerja didalam organisasi untuk menceburkan mereka kedalam lingkungan baru.
o Lintas jalan dan lintas percakapan
: membawa pegawai untuk menerobos batas-batas birokratis dengan bekerja atau
berdialog bersama dengan orang-orang dari unit, badan, atau organisasi bisnis
ynag lain.
o Sponsor institusional : membentuk
proses formal untuk menarik, mendukung, melindungi, dan menghargai perilaku
inovatif dalam organisasi pemerintah.
o Kontes : mempromosikan perilaku
yang diinginkan dalam organisasi dengan
memberi imbalan mereka yang menjadi teladan untuk perilaku tersebut.
o Perencanaan strategis skala besar
dan real time.
o Latihan kelompok : latihan kelompok
intensif jangka pendek didalam iklim yang bebas dari penghalang yang dirancang
untuk memberi inspirasi mengalirnya gagasan mengenai perbaikan proses kerja
yang dijadikan target.
o Pewarisan pengalaman organisasional
: acara besar dimana ratusan pegawai saling menceritakan pengalamannya untuk
membangun kebiasaan, komitmen emosional, dan sikap yang diinginkan oleh
pemimpin.
o Mendesai ulang pekerjaan : baik
melalui rekayasa ulang proses bisnis, reformasi sistem administrasi atau
pengenalan teknologi baru, mengubah pengalaman pegawai secara permanen.
2)
Menyentuh
perasaan : mengembangkan pemufakatan baru
Untuk menciptakan budaya wira usaha
anda harus menyakinkan pegawai untuk melepaskan komitmen lamanya dan
mengembangkan seperangkat komitmen yang baru dan berbeda. Proses menyentuh
perasaan ini benar-benar bersifat pribadi. Pendekatan ini menuntut pemimpin
untuk mengakui dan memuaskan kebutuhan orang yang paling mendalam. Pendekatan
ini menuntut memberi rasa hormat dan bahkan sedikit hadiah. Dan pemim pin
dituntut untuk melakukan hal ini setiap hari, setiap bulan, dan setiap tahun.
Alat untuk menyentuh perasaan antara lain :
ü Simbol baru : mengkomunikasikan
pada tingkat paling inti dari budaya yang ingin di bangun.
ü Ceritera baru : menciptakan artefak
budaya baru : tonggak yang membantu mengikat para pegawai bersama pada
seperangkat nilai, harapan, keinginan, dan impian bersama.
ü Merayakan keberhasilan: melalui
peristiwa-peristiwa reguler maupun spontan yang menghargai prestasi individu,
tim, dan organisasi sebagai keseluruhan, mendorong budaya yang ingin dibangun
oleh pemimpin.
ü Menghargai kegagalan: memenfaatkan
inovasi yang gagal sebagai peluang untuk memperbaiki kinerja dan mempromosikan
inovasi bukan sebagai peluang untuk menyalahkan dan menghukum.
ü Ritual: peristiwa khusus yang
menyatukan dan memperkuat budaya baru. Ritual sering memberikan sentuhan kuat
perasaan orang.
ü Investasi ditempat kerja:
meningkatkan standar mutu lingkungan kerja. Membuktikan pada pegawai
bahwapemimpin organisasi menghargai mereka dan menghargai mutu.
ü Mendesai ulang tempat kerja:
memperkuat komitmen emosaional yang diinginkan oleh pemimpin seperti sense of
teamwork atau komitmen terhadap pelayanan pelanggan.
ü Investasi pada pegawai: membuktikan
kepada mereka bahwa pemimpin mereka serius terhadap perubahan yang diperjuangkan
dengan menginvestasikan kapasitas mereka untuk membuat perubahn tersebut.
ü Peristiwa pengikat: menghubungkan
hubungan yang ampuh diantara kelompok-kelompok pegawai berdasarkan kepercayaan,
kerja sama, dan saling berbagi tanggung jawab untuk mencapai hasil.
ü Valentines: suatu kegiatan kelompok
dimana pegawai memberi tahu unit kerja lain apa yang diinginkannya dari
kelompok kerja yang lain.
3)
Mengubah
cara berfikir: mengembangkan model mental baru
Pendekatan ketiga adalah mengubah
budaya berada pada tataran kesadaran dan rasional budaya baru. Pendekatan ini
membantu pegawai membangun pemahaman baru terhadap maksud, peran, tujuan,
nilai-nilai, dan strategi organisasi (arah yang dituju organisasi dan bagaimana
untuk sampai kesana). Alat untuk mengubah pikiran antara lain:
§ Memunculkan ke permukaan: suatu
latihan kelompok dimana orang mengidentifikasi asumsi yang tidak terucap dan
tidak disadari yang membentuk sistem, kemudian membahas asumsi-asumsi yang
perlu diubah.
§ Kinerja bencmarking: membandingkan
kinerja organisasi yang berbeda untuk membuang model mental yang sudah tidak
sesuai dengan mengikis cara-cara kerja yang lama.
§ Kunjungan tempat: memberi
kesempatan kepada orang untuk melihat, merasakan dan menyentuh organisasi yang
menunjukkan suatu budaya, kebiasaan, dan hasil yang diinginkan oleh pemimpin.
§ Kelompok pembelajar: mengubah
pikiran pegawai dengan membantu mereka mempelajari sesuatu yang baru secara
bersama.
§ Menciptakan sense of mission:
menggunakan proses partisipasi untuk mengembangkan sebuah pernyataan misi,
sehingga bisa memberi pemahaman bersama secara luas mengenai tujuan dasar bagi
anggota organisasi.
§ Membangun visi bersama: memberi
gambaran dengan kata-kata kepada pegawai mengenai masa depan yang ingin
diciptakan.
§ Artikulasi nilai-nilai, keyakinan,
dan prinsip-prinsip organisasi: memberi standar nonbirokratis bagi pegawai
untuk membimbing tindakan mereka di tempat kerja.
§ Menggunakan bahasa baru untuk
menggantikan bahasa birokratis: istilah, gagasan, kiasan, dan keseluruhan kosa
kata untuk memberi batu uji bagi pegawai yang bisa membantu mereka menavigasi
menuju zona netral dan menginternalisasikan budaya baru.
§ Sekolah inggriya: memanfaatkan
kemampuan internak organisasi untuk membidik dan melatih agen perubahan untuk
menjadi teladan budaya baru.
§ Orientasi anggota baru: membentu
pegawai yang baru masuk memahami misi, visi dan nilai-nilai organisasi.
12 pelajaran bagi pemimpin transisi budaya:
1.
Pegawai
jangan dikontrol tetapi libatkan;
2.
Buat
model perilaku yang diinginkan;
3.
Buatlah
agar diri anda visibel;
4.
Buat
batasan tang jelas antara yang baru dengan yang lama;
5.
Beri
kebebasan tetapi bekali dengan perlengkapan
6.
Masukan
darah segar secepatnya tetapi tranfusinya lakukan secara pelan;
7.
Hilangkan
rasa tukut tetapi jangantoleran pada resisitensi;
8.
Juallah
keberhasilan;
9.
Komunikasikan;
10.
Jembati
berbagai bagian-bagian dalam organisasi;
11.
Ubalah
sistem administrasi yang mendorong budaya birokrasi;
12.
Berkomitmen
untuk jangka panjang.
LANGKAH-LANGKAH
PENERAPAN STRATEGI
Ada lima strategi dengan beberapa pendekatannya dan
puluhan alat yang akan digunakanuntuk melakukan pembaharuan. Bagaimana langkah
penerapannya? Untuk mengimplementasikannya perlu membuat pohon keputusan
No comments:
Post a Comment